KUTIM — Kebakaran hebat kembali melanda Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kamis 26 Maret 2026 lalu. Sedikitnya 85 rumah warga di Desa Batu Timbau hangus dilalap api.
Peristiwa ini bukan kali pertama. Pada 2025 lalu, kebakaran serupa terjadi di wilayah yang sama dan menghanguskan 77 rumah.
Rentetan kejadian ini memperlihatkan tingginya kerentanan kawasan permukiman di Batu Ampar terhadap bencana kebakaran.
Kondisi di lapangan menunjukkan permukiman warga yang padat dengan akses jalan sempit menjadi kendala utama dalam proses penanganan.
Situasi tersebut membuat upaya pemadaman tidak berjalan optimal saat api dengan cepat membesar dan merambat ke bangunan lain.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menilai kejadian yang terus berulang ini menjadi sinyal kuat perlunya penataan ulang kawasan permukiman di Batu Ampar.
“Kejadian seprti ini sudah berulang dengan jumlah yang terbakar cukup besar. Memang itu sudah dalam kondisi luar biasa,” ucapnya di Sangatta, Senin 30 Maret 2026.
Sebagai langkah penanganan, Pemkab Kutim telah menginstruksikan pemanfaatan dana tidak terduga untuk membantu warga terdampak.
Bantuan tersebut termasuk kemungkinan pembangunan kembali rumah warga yang terbakar.
“Semoga saja bisa digunakan dana itu untuk antisipasi yang terkena dampak. Misalnya membangun rumah mereka,” jelasnya.
Selain penanganan darurat, pemerintah daerah juga mendorong percepatan kajian teknis penataan kawasan permukiman.
Camat Batu Ampar diminta segera menyurati pemerintah daerah agar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) bersama instansi terkait melakukan kajian menyeluruh.
Pemerintah menargetkan dalam waktu satu pekan, rencana penanganan dan penataan kawasan sudah rampung untuk kemudian diajukan hingga ke pemerintah pusat.
Di sisi lain, keterbatasan fasilitas pemadam kebakaran juga jadi perhatian.
Meski sarana sudah tersedia, jumlah armada dan kondisi akses dinilai belum mampu mengimbangi skala kebakaran yang besar.
“Fasilitas sudah ada, tapi belum maksimal. Apinya besar, mobilnya cuma dua. Jalan juga sempit. Jadi penanganannya agak lambat,” tutupnya. (caca)











