Payload Logo
Tersangka Korupsi CPO

Tersangka korupsi CPO (dok: Kejaksaan)

Kejaksaan Tetapkan 11 Tersangka Perkara Ekspor CPO, Negara Rugi Rp14 Triliun

Penulis: Agung Ardaus | Editor:
13 Februari 2026

KATAKALTIM — Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali membongkar kasus dugaan korupsi di sektor industri kelapa sawit nasional dengan kerugian negara ditaksir mencapai puluhan triliun rupiah.

Kejaksaan

Dalam perkara tersebut, Tim Penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) menetapkan 11 tersangka yang diduga korupsi ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya palm oil mill effluent (POME) periode 2022-2024.

"Tim penyidik telah menetapkan beberapa tersangka,” ucap Direktur Penyidik (Dirdik) Jam Pidsus, Syarief Sulaeman Nahdi dalam keterangan resminya, 10 Februari 2026

Penetapan tersangka setelah penyidik memeriksa sejumlah saksi serta alat bukti berupa surat-surat dan bukti elektronika.

11 Tersangka Korupsi Ekspor CPO

Kesebelas tersangka yang ditetapkan penyidik terdiri dari tiga pejabat negara dan 8 orang direksi dari sejumlah perusahaan swastra. Para tersangka itu antara lain:

1. LHB selaku Kasubdit Industri Hasil Perkebunan Non Pangan dan Fungsional Analis Kebijakan dan Pembina Industri Ahli Madya pada Direktorat Industri Hasil Hutan Kementerian Perindustrian RI.

2. Tersangka FJR selaku Direktur Teknis Kepabeanan pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) / (2024 s.d sekarang menjabat Kepala Kantor DJBC Bali, NTB dan NTT).

3. Tersangka MZ selaku ASN pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Pekanbaru.

4. Tersangka ES selaku Direktur PT SMP, PT SMA dan PT SMS

5. Tersangka ERW selaku Direktur PT BMM.

6. Tersangka FLX selaku Direktur Utama PT AP dan Head Commerce PT AP.

7. Tersangka RND selaku Direktur PT PAJ.

8. Tersangka TNY selaku Direktur PT TEO dan Pemegang Saham PT Green Product International.

9. Tersangka VNR selaku Direktur PT SIP.

10. Tersangka RBN selaku Direktur PT CKK.

11. Tersangka YSR selaku Direktur Utama PT MAS dan Komisaris PT SBP.

Pasal yang Disangkakan

Mereka disangkakan melanggar Primair: Pasal 603 jo. Pasal 20 huruf a atau c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Korupsi

Subsidiair: Pasal 3 jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 618 jo. Pasal 20 huruf a atau c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Para tersangka tersebut dilakukan penahanan selama 20 hari ke depan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung dan Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan," ungkap Dirdik JAM PIDSUS.

Modus Para Tersangka

Dirdik JAM Pidsus mengungkap, perkara ini bermula saat pemerintah memberlakukan kebijakan pembatasan dan pengendalian ekspor CPO pada kurun waktu 2020-2024.

Kebijakan tersebut dibuat sebagai upaya menjaga ketersediaan minyak goreng dalam negeri serta stabilitas harga bagi masyarakat.

Kebijakan itu dilaksanakan melalui mekanisme Domestic Market Obligation (DMO), persyaratan Persetujuan Ekspor, serta pengenaan Bea Keluar dan Pungutan Sawit (Levy).

Dalam kerangka kebijakan tersebut, CPO ditetapkan sebagai komoditas strategis nasional yang secara kepabeanan diklasifikasikan dalam HS Code 1511, tanpa pembedaan berdasarkan kadar asam (Free Fatty Acid/FFA).

Dengan demikian, seluruh bentuk CPO, termasuk CPO berkadar asam tinggi, tetap tunduk pada ketentuan pembatasan ekspor dan kewajiban kepada negara.

Namun dalam pelaksanaannya, penyidik menemukan penyimpangan berupa rekayasa klasifikasi komoditas ekspor.

CPO yang secara substansi merupakan CPO berkadar asam tinggi (High Acid CPO) secara sadar dan sengaja diklaim serta diperlakukan sebagai POME atau Palm Acid Oil (PAO).

“Dengan menggunakan HS Code 2306, yang seharusnya diperuntukkan bagi residu atau limbah padat,” ucap Jaksa.

Rekayasa klasifikasi tersebut dilakukan dengan tujuan menghindari rezim pengendalian ekspor CPO.

Sehingga komoditas yang pada hakikatnya merupakan CPO dapat diekspor seolah-olah bukan CPO dan terbebas atau diringankan dari kewajiban yang ditetapkan negara.

Dirdik JAM Pidsus menambahkan, penyusunan dan penggunaan Peta Hilirisasi Industri Kelapa Sawit yang belum berbentuk peraturan perundang-undangan, memuat komoditas serta spesifikasi teknis yang tidak dikenal dalam sistem klasifikasi Internasional.

“Akan tetapi kebijakan itu tetap dijadikan acuan oleh aparat,” tuturnya.

Hasil pemeriksan menemukan para tersangka meloloskan ekspor CPO dengan menggunakan klasifikasi yang tidak sesuai.

Dengan tujuan menghindari pembatasan dan pelarangan ekspor CPO, menghindari kewajiban Domestic Market Obligation (DMO).

Serta mengurangi kewajiban pembayaran Bea Keluar dan Pungutan Sawit (Levy) yang seharusnya dipenuhi kepada negara.

"Pajak CPO itu jauh lebih tinggi daripada pajak POME, jauh sekali. Itu kerugian keuangan negaranya," ungkap Dirdik JAM Pidsus.

Selain mengelabui ketentuan ekspor, Dirdik JAM PIDSUS juga mengungkap penyidik menemukan adanya kick back atau pemberian imbalan kepada oknum pejabat negara.

Uang tersebut diberikan untuk memuluskan proses administrasi dan pengawasan ekspor sehingga klasifikasi yang tidak sesuai ketentuan tetap dapat digunakan tanpa koreksi.

"Para tersangka diduga tidak hanya mengetahui ketentuan hukum yang berlaku, tetapi secara aktif berperan dalam menyusun, menggunakan, dan membiarkan mekanisme yang menyimpang tersebut berlangsung," ungkap Dirdik JAM PIDSUS

Dampak dan Perkiraan Kerugian Negara

Menurut Dirdik JAM PIDSUS, perbuatan menyimpang yang dilakukan oleh para Tersangka telah menimbulkan dampak yang luas dan sistemik.

Tidak hanya terhadap keuangan negara, perbuatan tersangka juga berdampak terhadap tata kelola komoditas strategis dan rasa keadilan di tengah masyarakat

Dampak yang terjadi dari penyimpangan para tersangka itu berupa kehilangan penerimaan negara, berupa tidak terbayarkannya Bea Keluar dan Pungutan Sawit (Levy) dalam jumlah yang sangat signifikan.

Seharusnya, penerimaan itu menjadi hak negara dan instrumen fiskal dalam pengelolaan komoditas strategis nasional.

Penyidik juga mencatat adanya dampak tidak efektifnya kebijakan pengendalian ekspor CPO.

Komoditas yang seharusnya tunduk pada pembatasan, pelarangan, dan kewajiban pemenuhan kebutuhan dalam negeri justru dapat diekspor melalui penggunaan klasifikasi yang tidak semestinya.

“Hal itu menyebabkan tujuan perlindungan kepentingan masyarakat menjadi tereduksi,” paparnya.

Selain itu penyidik menilai perbuatan tersangka telah menyebabkan terganggunya tata kelola komoditas strategis nasional.

Praktik penyimpangan klasifikasi dan pengabaian ketentuan hukum tersebut melemahkan kewibawaan regulasi negara, merusak kepastian hukum dalam sistem perdagangan komoditas strategis.

Serta berpotensi menciptakan preseden buruk yang mendorong pengulangan perbuatan serupa apabila tidak ditegakkan hukum secara tegas.

Dirdik JAM PIDSUS lebih jauh mengungkapkan nilai kerugian keuangan negara dalam perkara tersebut masih dalam proses penghitungan oleh Tim Auditor.

Namun, berdasarkan penghitungan sementara oleh Tim Penyidik diketahui kerugian keuangan negara berupa hilangnya penerimaan negara diperkirakan mencapai Rp10,6 triliun hingga Rp14,3 triliun.

Sebagian besar kerugian tersebut terkonsentrasi pada kegiatan ekspor oleh beberapa grup perusahaan dalam periode tahun 2022 sampai dengan 2024. (Agung)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025