Payload Logo
PPU

Embung Lawe-Lawe, PPU (Dok: Prokopim PPU)

Kemarau Tekan Debit Lawe-Lawe, PPU Siapkan Waduk hingga Void Bekas Tambang

Penulis: Gung | Editor: Hilman
14 September 2026

PENAJAM — Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mulai menyiapkan sejumlah sumber alternatif untuk menjaga pasokan air bersih di tengah kemarau panjang.

Salah satu langkah yang dikaji adalah pemanfaatan cadangan air dari Waduk Waru hingga void atau lubang bekas tambang.

Langkah tersebut disiapkan menyusul penurunan debit air di Embung Lawe-Lawe. Dari kondisi normal sekitar 140 liter per detik, debitnya kini menyusut menjadi 80 liter per detik.

Penurunan juga terjadi pada ketinggian muka air. Posisi yang sebelumnya mencapai sekitar 190 sentimeter kini berada di kisaran 125 sentimeter.

Bupati PPU Mudyat Noor mengatakan pemerintah telah melakukan pemetaan terhadap sejumlah sumber air yang berpotensi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Tidak hanya mengandalkan satu sumber, Pemkab PPU juga mengidentifikasi dua embung yang diperkirakan memiliki kapasitas gabungan sekitar 4 hingga 6 juta meter kubik.

Pemanfaatannya telah dilaporkan kepada pemerintah pusat untuk mendapatkan sinkronisasi teknis.

“Kalau dua sumber air ini sudah berjalan maksimal, biarpun kemarau berlangsung hingga satu tahun, kebutuhan air bersih kita aman,” kata Mudyat beberapa waktu lalu.

Menurutnya, penyediaan air minum menjadi prioritas pemerintah dalam menghadapi kondisi kemarau.

Kebutuhan tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat sehingga harus dipastikan tetap tersedia.

Untuk mengantisipasi berkurangnya sumber air permukaan, pemerintah menyiapkan skema bertahap.

Waduk Waru menjadi salah satu sumber yang dipertimbangkan untuk mendukung kebutuhan air baku.

Jika kebutuhan masih memerlukan tambahan sumber, pemerintah juga membuka opsi pemanfaatan void bekas tambang yang memiliki kapasitas besar. Namun, kapasitas pasti sumber tersebut masih menunggu perhitungan lebih lanjut.

“Tahap pertama, kita menggunakan cadangan dari Waduk Waru. Yang kedua nanti kita akan menggunakan dari salah satu void (lubang bekas tambang) yang besar sekali, kapasitasnya masih kita tunggu hitungannya,” jelasnya.

Mudyat menegaskan persoalan air bersih menjadi perhatian utama pemerintah dalam menghadapi kemarau.

Berbagai sumber air yang tersedia kini dipetakan agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan menjaga kesinambungan pasokan bagi masyarakat.

Sementara kebutuhan air untuk pertanian ditangani melalui skema berbeda.

Pasalnya, sektor pertanian membutuhkan debit yang jauh lebih besar dan sangat bergantung pada kondisi sumber air alami. (Adv)

Dilihat 696 kali