PENAJAM — Musim kemarau berkepanjangan yang terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) PPU menggelar Salat Istisqa atau salat meminta hujan, Senin (7/9/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung di halaman Islamic Center Kabupaten PPU, Kelurahan Nipah-Nipah, dan diikuti lebih dari 500 peserta.
Mereka berasal dari jajaran DLH PPU, sejumlah instansi pemerintah, aparatur sipil negara (ASN), non-ASN serta pelajar dari sejumlah sekolah.
Kepala DLH PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro, mengatakan pelaksanaan Salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar di tengah kondisi kemarau yang berdampak terhadap ketersediaan air dan lingkungan.
Selain sebagai bentuk doa bersama, kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi lingkungan selama musim kering.
“Hari ini kita melaksanakan Salat Istisqa, diikuti oleh seluruh OPD, dan siswa di Kabupaten Penajam Paser Utara,” ujarnya, Senin (7/9).
Pelaksanaan ibadah dipimpin oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten PPU, KH Abu Hasan Mubarak, yang bertindak sebagai imam sekaligus khatib.
Kemarau panjang tidak hanya membuat sebagian wilayah menghadapi keterbatasan air bersih.
Kondisi lingkungan yang semakin kering juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun kebakaran di kawasan permukiman.
“Penghematan air, menjaga kebersihan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran merupakan bagian dari tanggung jawab bersama,” sebutnya.
Karena itu, DLH PPU mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan sekaligus mengurangi aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Sukadi menyampaikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan perlu dilakukan bersama, terutama dalam menghadapi kondisi cuaca yang kering.
Penggunaan air secara bijak menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk menghadapi keterbatasan pasokan.
Selain menghemat air, masyarakat juga diingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan dan tidak melakukan pembakaran secara sembarangan.
Menurutnya, kondisi kemarau dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
“Kita juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama kondisi kemarau,” lanjutnya.
Upaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan ketersediaan air, tetapi juga pencegahan bencana yang berpotensi muncul akibat kondisi kering.
Pihaknya berharap keterlibatan berbagai unsur dalam kegiatan tersebut dapat memperkuat kebersamaan sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.
Pemerintah daerah juga terus mendorong masyarakat untuk bersama-sama menghadapi dampak kemarau dengan melakukan penghematan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. (Adv/Bey)














