PENAJAM — Keselamatan penumpang menjadi perhatian Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dalam aktivitas penyeberangan Penajam-Balikpapan.
Masyarakat yang menggunakan kapal klotok maupun speedboat diminta tidak mengabaikan penggunaan jaket pelampung atau life jacket.
Imbauan tersebut disampaikan di tengah potensi gelombang tinggi di perairan yang berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih dapat terjadi hingga akhir September 2026.
Kepala Dishub PPU Agus Dahlan mengatakan, penggunaan life jacket seharusnya tidak hanya dilakukan ketika kondisi cuaca memburuk.
Peralatan keselamatan tersebut perlu menjadi perlengkapan standar setiap kali melakukan perjalanan menggunakan transportasi air.
“Sebenarnya pemakaian life jacket itu bukan hanya pada saat musim gelombang atau cuaca ekstrem seperti sekarang. Yang kita harapkan, masyarakat maupun motoris kelotok dan speedboat selalu menyiapkan fasilitas life jacket karena ini untuk keselamatan kita bersama,” ujar Agus, Selasa (8/9/2026).
Selain penggunaan alat pelindung, Dishub PPU mengingatkan pengemudi atau motoris agar memperhatikan kapasitas angkut.
Penumpang tidak boleh diangkut melebihi jumlah yang telah ditentukan demi menjaga keselamatan selama perjalanan.
“Kami juga menyampaikan kepada seluruh motoris kelotok maupun speedboat supaya jangan berlebihan mengangkut penumpang. Sesuaikan dengan standar yang sudah ada,” katanya.
Pengawasan terhadap aktivitas penyeberangan juga dilakukan secara rutin. Petugas Dishub PPU bersama personel Polairud ditempatkan di kawasan Pelabuhan Penajam untuk memantau kegiatan penyeberangan menuju Balikpapan maupun sebaliknya.
“Petugas Dishub setiap hari bersama Polairud ada di pelabuhan untuk memantau kegiatan penyeberangan ke Balikpapan,” jelas Agus.
Dishub PPU juga memasang sejumlah spanduk berisi pesan keselamatan di kawasan pelabuhan klotok dan speedboat.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengingatkan penumpang maupun operator agar menempatkan keselamatan sebagai prioritas.
“Kalau ingin menyeberang ke Balikpapan atau sebaliknya, gunakan life jacket. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, karena yang repot nanti bukan hanya kita, tetapi juga keluarga,” terangnya.
Namun, imbauan tersebut di lapangan masih menghadapi persoalan ketersediaan life jacket. Berdasarkan keterangan petugas Dishub yang berjaga di Pelabuhan Klotok, jumlah jaket pelampung yang tersedia saat ini jauh berkurang dibandingkan sebelumnya.
Rizal, salah satu petugas Dishub PPU, menyebut dari jumlah yang sebelumnya mencapai sekitar 130 unit, kini hanya tersisa sekitar 30 unit.
“Itu kan milik pemerintah, ditaruh di sini (pelabuhan klotok), dulu ada sekitar 130-an, sekarang enggak tahu ke mana, sisa 30 lagi,” ungkap Rizal.
Kondisi tersebut membuat tidak semua penumpang yang ingin menggunakan life jacket dapat terfasilitasi.
Padahal, menurut Rizal, sebagian penumpang sudah memiliki kesadaran untuk menggunakan perlengkapan keselamatan tersebut.
“Kadang penumpang nanya, ada jaket pelampung kah, tapi ternyata habis stoknya, jadi ya enggak pakai jaket, yang ada aja. Harapannya pemerintah mengadakan life jacket itu lagi, jadi ada penambahan,” tandasnya.
Ketersediaan alat keselamatan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan seiring tingginya aktivitas masyarakat yang menggunakan jalur penyeberangan Penajam-Balikpapan.
Selain kepatuhan penumpang dan operator, kelengkapan fasilitas keselamatan juga menjadi bagian penting dalam mengantisipasi risiko perjalanan di perairan. (Adv)










