SAMARINDA — Pengelolaan aset Mall Lembuswana resmi diserahkan ke Pemerintah Kalimantan Timur (Kaltim).
Pihak pengelola mengaku terpukul sejak Covid-19. Terlalu banyak penyesuaian. Dan itu berpengaruh pada turunnya pendapatan secara signifikan.
“Covid kan lumayan, 2-3 tahun aktivitas ekonomi tidak jalan,” ucap Direktur Utama PT. Cipta Sumina Indah Satresna (CSIS), Edward Marwin Sinanta, Jumat (7/8/2026) di Samarinda.
Katanya kerugian dominan berasal dari surutnya pengunjung usai Pandemi Covid 19, renovasi struktur bangunan, serta keringanan sewa bagi tenant-tenant di Mall Lembuswana.
“Untung sih ada, cuma karena kita banyak lakukan renovasi dan penyesuaian untuk zaman Covid, tenant yang diberatkan biaya sewa kita kasih keringanan, termasuk karyawan kita tidak potong gaji,” bebernya.
Pun demikian, generasi kedua PT. CSIS yang mengelola Mall Lembuswana sejak tahun 1996 itu belum punya angka spesifik total kerugian yang dialami PT. CSIS.
Di lain sisi, kata dia, PT. CSIS terbuka mengikuti bidding contest ketika Pemprov Kaltim membuka peluang bagi investor mengelola kembali Mall tersebut.
“Kita akan coba dengan konsep yang berbeda, nanti kita siapkan semua,” tukasnya.
Lebih lanjut, ia setuju dengan rencana penyegaran Mall Lembuswana lewat revitalisasi beberapa bangunan tua, serta konsep penataan yang terinspirasi dari beberapa Mall modern di Jakarta.
Selain jadi Ikon Kota Samarinda, Mall Lembuswana dicanangkan jadi pusat aktivitas masyarakat. Sebab lokasinya di jantung Kota Tepian.
Rencananya, Mall Lembuswana akan dibangunkan beberapa lokasi hiburan, restoran, hingga Hotel.
“Kalau misal di Jakarta itu ada Central Park, jadi salah satu contoh Mall yang akan kita terapkan,” pungkasnya. (Deni)











