Payload Logo
UMKM binaan PLN

Dari Manik dan Tenun Jadi Cuan, Wawa Etnika Tumbuh Bersama TJSL PLN UID Kaltimra. (dok : PLN)

Merangkai Budaya, Merajut Ekonomi : Kisah Siti Hawa Mengembangkan Wawa Etnika Bersama TJSL PLN UID Kaltimra

Penulis: Han | Editor:
30 Agustus 2026

KUTAI KARTANEGARA – Setiap manik yang dirangkai Siti Hawa bukan sekadar bagian dari sebuah kerajinan. Di balik warna-warni manik, tenun, dan sulam yang ia olah, tersimpan cerita tentang keberanian memulai usaha, kemauan untuk terus belajar, hingga upaya membuka peluang bagi masyarakat di sekitarnya.

Perjalanan itu dimulai Siti pada 2017. Dengan modal sekitar Rp5 juta dan keterampilan yang dimiliki, ia memberanikan diri membangun usaha kerajinan yang kemudian diberi nama Wawa Etnika.

Saat itu, Siti mengerjakan hampir seluruh proses seorang diri. Ia membuat produk sekaligus memasarkannya kepada kerabat, teman, dan pelanggan yang mulai mengenal hasil karyanya.

“Awalnya saya hanya ingin memanfaatkan keterampilan yang saya miliki. Modalnya tidak besar, yang penting usaha ini bisa berjalan,” kenang Siti.

Seiring usaha berkembang, Siti menyadari bahwa kemampuan membuat produk saja belum cukup. Ia membutuhkan pengetahuan mengenai pengelolaan usaha, pemasaran, jejaring, hingga akses pasar yang lebih luas.

Kesempatan itu datang ketika Siti bergabung dengan Rumah BUMN Kutai Kartanegara pada 2018. Melalui ekosistem pemberdayaan UMKM yang dihadirkan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (UID Kaltimra), Siti memperoleh kesempatan mengikuti berbagai pelatihan dan pendampingan.

Bukan hanya belajar, Rumah BUMN juga mempertemukannya dengan pelaku UMKM lainnya. Dari sana, jejaring Siti semakin luas dan peluang kolaborasi mulai terbuka.

“Di Rumah BUMN Kutai Kartanegara saya tidak hanya belajar tentang usaha, tetapi juga bertemu banyak pelaku UMKM lain. Kami saling berbagi pengalaman, saling menguatkan, dan membuka peluang kerja sama,” ujarnya.

Kesempatan memperkenalkan produk melalui pameran dan expo turut menjadi bagian penting dalam perkembangan Wawa Etnika. Produk kerajinan berbasis manik-manik, kain tenun, dan sulam yang sebelumnya dipasarkan dalam lingkup terbatas mulai dikenal oleh konsumen yang lebih luas.

Akses pemasaran pun berkembang. Salah satunya melalui marketplace pada PLN Mobile yang menjadi salah satu kanal pemasaran bagi produk UMKM binaan.

Perlahan, hasilnya mulai terlihat.

Usaha yang dirintis dari modal sekitar Rp5 juta tersebut kini mampu membukukan omzet rata-rata sekitar Rp15 juta per bulan. Bahkan, ketika mengikuti event, expo, atau pameran UMKM, omzet Wawa Etnika dapat mencapai sekitar Rp40 juta.

Namun, bagi Siti, keberhasilan Wawa Etnika tidak hanya diukur dari angka penjualan. Ia kini memiliki keberanian lebih besar untuk memperkenalkan produknya, membangun jaringan, dan melihat pasar di luar lingkungan tempat usahanya pertama kali berkembang.

“Rumah BUMN membuat saya lebih percaya diri. Saya jadi tahu bagaimana mengembangkan usaha, memperluas jaringan, dan membawa produk kami ke pasar yang lebih luas,” tuturnya.

Pertumbuhan usaha itu juga membawa dampak lain. Ketika pesanan meningkat, Siti mulai melibatkan masyarakat sekitar dalam proses produksi sesuai kebutuhan.

Dari usaha yang semula dikerjakan seorang diri, kini Wawa Etnika mulai memiliki ruang untuk memberikan manfaat ekonomi kepada orang lain.

Bagi Siti, kondisi tersebut menjadi pencapaian tersendiri. Usaha yang awalnya dibangun untuk menopang kehidupan pribadi kini perlahan berkembang menjadi sumber peluang bagi lingkungan di sekitarnya.

Menjaga Budaya, Mengembangkan Ekonomi

Di tengah perubahan tren dan persaingan pasar, Siti memilih untuk tetap menjadikan budaya lokal sebagai identitas Wawa Etnika.

Manik-manik, tenun, dan sulam bukan hanya bahan untuk menghasilkan produk. Ketiganya menjadi medium bagi Siti untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah dalam bentuk karya yang dapat digunakan masyarakat.

General Manager PLN UID Kaltimra, Muchamad Chaliq Fadli, mengatakan perjalanan Wawa Etnika menjadi gambaran bahwa pemberdayaan UMKM membutuhkan proses yang berkelanjutan.

Menurutnya, dukungan terhadap UMKM tidak cukup hanya melalui bantuan awal. Peningkatan kapasitas, penguatan jejaring, serta pembukaan akses pasar juga menjadi bagian penting agar pelaku usaha dapat tumbuh mandiri.

“Bagi PLN, pemberdayaan UMKM merupakan proses untuk mendorong pelaku usaha agar semakin memiliki kapasitas dan kemandirian. Karena itu, kami berupaya menghadirkan ekosistem yang membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk belajar, membangun jejaring, memperkenalkan produk, dan mengembangkan akses pasar,” kata Chaliq.

Ia menambahkan, Rumah BUMN menjadi salah satu ruang kolaborasi yang mempertemukan pelaku UMKM dengan berbagai kesempatan pengembangan usaha.

“Kami tentu berharap dukungan yang diberikan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para pelaku UMKM. Ketika pengetahuan bertambah, jejaring semakin luas, dan akses pasar terbuka, kami berharap pelaku usaha memiliki fondasi yang semakin kuat untuk mengembangkan usahanya secara berkelanjutan,” ujarnya.

Chaliq juga melihat kekuatan Wawa Etnika terletak pada kemampuannya mengangkat potensi budaya lokal menjadi produk bernilai ekonomi.

“Wawa Etnika menunjukkan bahwa potensi lokal dapat menjadi kekuatan ekonomi ketika dipadukan dengan kreativitas, kualitas, dan kemauan untuk terus belajar,” katanya. Perjalanan Siti Hawa bersama Wawa Etnika menunjukkan bahwa sebuah usaha tidak selalu harus dimulai dengan modal besar.

Kadang, ia bermula dari keterampilan yang sudah dimiliki, keberanian untuk mencoba, dan kemauan untuk terus belajar.

Dari modal sekitar Rp5 juta pada 2017, Wawa Etnika kini tumbuh dengan omzet belasan juta rupiah setiap bulan dan berpeluang meraih omzet hingga puluhan juta rupiah ketika mengikuti berbagai kegiatan pameran.

Lebih dari sekadar bisnis, Siti sedang merangkai sesuatu yang lebih besar: mempertahankan identitas budaya, membangun kemandirian ekonomi, sekaligus membuka peluang bagi masyarakat.

Dari manik-manik, tenun, dan sulam, Siti tidak hanya merangkai produk. Ia sedang merangkai budaya, peluang, dan harapan untuk tumbuh bersama.(Adv)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025