Payload Logo
PPU

drg. Yuni Kusumawati, Dokter Gigi UPTD Puskesmas Gunung Intan, Penajam Paser Utara (Dok: Pribadi)

OPINI: Alarm Kesehatan Gigi, 98 Persen Anak Sekolah di Wilayah Gunung Intan PPU Alami Karies

Penulis: Agung Ardaus | Editor:
12 Februari 2026

Penulis: drg. Yuni Kusumawati, Dokter Gigi UPTD Puskesmas Gunung Intan, Penajam Paser Utara

PENAJAM — Sebagai seorang dokter gigi yang mengabdi di UPTD Puskesmas Gunung Intan, Kabupaten Penajam Paser Utara, saya memiliki kesempatan berharga untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat, terutama anak-anak usia sekolah.

Salah satu agenda rutin yang kami laksanakan adalah pemeriksaan kesehatan gigi berkala (CKG) ke sekolah-sekolah di wilayah kerja kami.

Namun, setiap kali kembali dari lapangan, ada satu realitas pahit yang selalu membekas di pikiran saya: kondisi kesehatan gigi anak-anak kita saat ini masih sangat memprihatinkan.

Fakta Mengkhawatirkan di Lapangan

Data yang kami himpun dari kegiatan pemeriksaan menunjukkan angka yang cukup ekstrem. Rerata hampir 98 persen anak sekolah yang kami periksa mengalami karies atau gigi berlubang.

Kondisi ini tidak bisa dianggap remeh; setidaknya dalam satu rongga mulut, ditemukan 1 hingga 3 gigi yang berlubang.

Situasi ini benar-benar memicu keprihatinan saya. Sebagai tenaga medis, saya memandang karies gigi bukan sekadar lubang kecil biasa.

Lubang-lubang tersebut merupakan sarang infeksi yang dapat memicu rasa sakit kronis, mengganggu pola tidur, hingga merusak nafsu makan anak.

Jika kondisi fisik terganggu, maka konsentrasi dan prestasi belajar mereka di sekolah pun akan ikut mengalami penurunan.

Akar Masalah: Antara Perilaku dan Mitos

Berdasarkan pengamatan saya di lapangan, tingginya angka karies ini berakar pada dua hal utama: pola perilaku sehari-hari dan kepercayaan yang keliru.

Banyak anak yang belum memahami pentingnya menyikat gigi dengan teknik yang benar, terutama pada waktu kritis, yaitu setelah sarapan dan sebelum tidur malam. Menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride juga tentunya.

Kebiasaan dan juga akses terhadap konsumsi makanan dan minuman manis (kariogenik) yang semakin mudah juga mempercepat kerusakan pada gigi susu anak-anak.

Di sisi lain, tantangan terbesar kami adalah mitos yang masih mengakar kuat di tengah masyarakat. Anggapan bahwa "gigi susu tidak perlu dirawat karena toh nantinya akan tanggal sendiri" adalah sebuah kesalahan besar.

Padahal, kesehatan gigi susu adalah fondasi utama bagi struktur rahang dan kesehatan gigi permanen mereka di masa depan.

Langkah dan Harapan

Melihat kondisi yang mendesak ini, saya bersama tim Puskesmas Gunung Intan berkomitmen untuk tidak tinggal diam.

Kami terus berupaya menghadirkan edukasi yang lebih kreatif, interaktif, dan menyentuh agar anak-anak mulai peduli terhadap kebersihan gigi mereka sejak dini.

Saat ini, fokus utama kami tertuang dalam tiga langkah strategis:

Pertama adalah Penguatan UKGS: Bersinergi dengan pihak sekolah untuk menghidupkan kembali tradisi sikat gigi bersama secara rutin.

Kedua Edukasi Proaktif: Memberikan penyuluhan menggunakan media visual yang menarik dan bahasa yang mudah dicerna oleh anak-anak.

Dan ketiga Sinergi Keluarga: Mengajak orang tua untuk menjadi "polisi kesehatan" di rumah, memastikan anak menyikat gigi sebelum tidur.

Kesehatan gigi adalah investasi kesehatan masa depan. Sebagai tenaga kesehatan, saya berharap isu karies ini mendapat perhatian serius dari seluruh pihak.

Melalui kolaborasi yang kuat antara puskesmas, sekolah, dan orang tua, saya optimistis kita dapat mewujudkan senyum sehat dan ceria bagi anak-anak di Gunung Intan. (*)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025