PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) membahas tindak lanjut pelatihan pengrajin sepatu yang dilaksanakan di Kecamatan Babulu pada 2025 silam.
Salah satu rencana yang dibahas adalah melibatkan pengrajin lokal untuk memproduksi sepatu bagi siswa penerima manfaat Kartu Penajam Cerdas (KPC).
Pembahasan tersebut melibatkan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), Asisten II, serta Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (KUKM Perindag) PPU.
Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya menindaklanjuti hasil pelatihan agar keterampilan yang telah diberikan kepada masyarakat dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif.
Kepala Bidang Perindustrian Dinas KUKM Perindag PPU, Yuli Setiyowati, mengatakan pelatihan pengrajin sepatu sebelumnya diikuti sekitar 10 kelompok di Kecamatan Babulu.
Menurutnya, tindak lanjut diperlukan agar pelatihan tersebut tidak berhenti pada peningkatan keterampilan, tetapi juga membuka peluang usaha dan pemasaran produk bagi para peserta.
“Tujuannya bagaimana supaya hasil pelatihan ini bisa diimplementasikan. Jadi, produknya ada dan bisa digunakan, baik oleh anak sekolah, pegawai, maupun masyarakat umum,” ujarnya, Kamis (15/10/2026).
Dalam pembahasan awal, pengrajin direncanakan memproduksi sepatu yang nantinya dapat dipasarkan kepada siswa penerima manfaat KPC, khususnya siswa kelas I sekolah dasar (SD) dan kelas I sekolah menengah pertama (SMP).
Meski demikian, Yuli menegaskan rencana tersebut masih memerlukan pembahasan lebih lanjut.
Pemerintah daerah perlu menentukan skema produksi dan pemasaran, termasuk kesiapan pengrajin dalam memenuhi kebutuhan sepatu sesuai dengan jumlah dan spesifikasi yang diperlukan.
Ia menjelaskan, meskipun terdapat sekitar 10 kelompok yang mengikuti pelatihan, pihaknya belum dapat memastikan jumlah pengrajin yang masih aktif memproduksi sepatu.
Hal itu karena kegiatan produksi turut bergantung pada ketersediaan peralatan dan bahan baku.
“Kalau hasil pelatihan, memang ada 10 kelompok yang mengikuti kegiatan saat itu. Tetapi, untuk mengetahui mana yang aktif atau tidak, kami belum bisa memastikan karena perlu melihat ketersediaan peralatan dan bahan bakunya,” jelasnya.
Yuli menyebutkan, sejumlah contoh sepatu hasil pelatihan telah tersedia dan dipajang di etalase. Namun, produk tersebut masih memerlukan tahapan lanjutan sebelum dapat dipasarkan secara luas, termasuk penentuan merek dan pengurusan hak merek.
Menurutnya, bidang perindustrian berperan dalam mendorong pengembangan pengrajin serta kualitas produk yang dihasilkan.
Apabila produk telah siap dipasarkan, pihaknya juga berencana memperkenalkannya melalui berbagai kegiatan pameran.
“Kalau produk kita sudah siap untuk diperkenalkan dan dipasarkan, dari bidang industri tentu akan membawa produk itu dalam berbagai kegiatan pameran,” tandasnya.
Melalui pembahasan lintas perangkat daerah tersebut, hasil pelatihan pengrajin sepatu diharapkan dapat ditindaklanjuti menjadi peluang usaha yang berkelanjutan.
Namun, realisasi produksi dan pemasaran sepatu bagi siswa penerima KPC masih menunggu pematangan skema, regulasi, serta keputusan pemerintah daerah. (Adv)














