KUTIM — Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Kutai Timur atau STIPER Kutim akan membuka program pendidikan vokasi selama satu tahun, yang secara khusus menyiapkan tenaga kerja terampil untuk sektor perkebunan kelapa sawit.
Katanya program tersebut akan dijalankan melalui kerja sama STIPER Kutim dengan Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta.
“Insyaallah STIPER dan INSTIPER Jogja sudah melakukan kerja sama. Ini khusus menyiapkan tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit,” kata Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman.
Kata dia, program tersebut dibutuhkan untuk meningkatkan ketersediaan tenaga kerja lokal yang punya keterampilan sesuai kebutuhan industri perkebunan.
Selama ini, sambung Ardiansyah, tenaga terlatih yang menduduki posisi tertentu di sektor perkebunan kelapa sawit masih banyak berasal dari perguruan tinggi di luar daerah.
Politisi PKS itu berharap program vokasi tersebut dapat menjadi pilihan bagi masyarakat Kutim, khususnya generasi muda yang ingin memperoleh pendidikan sekaligus keterampilan kerja dalam waktu relatif singkat.
“Semoga pendidikan vokasi satu tahun atau Diploma 1 ini menjadi pilihan bagi masyarakat Kutai Timur dan mengisi lowongan-lowongan di perkebunan-perkebunan kelapa sawit,” ujarnya.
Selain program pendidikan, Pemkab Kutim juga mendorong peningkatan akses mahasiswa terhadap fasilitas tempat tinggal.
Ardiansyah menyebut STIPER Kutim telah memiliki asrama yang merupakan bantuan dari PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Keberadaan asrama tersebut diharapkan dapat menjawab salah satu kendala masyarakat dari kecamatan yang ingin melanjutkan pendidikan di STIPER, tetapi terkendala persoalan tempat tinggal.
Ardiansyah menegaskan peningkatan keterampilan tenaga kerja menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi daerah.
Masyarakat Kutim, kata dia, harus memiliki kompetensi dan kesempatan untuk terlibat langsung dalam aktivitas ekonomi daerah.
“Keterampilan tenaga kerja harus terus ditingkatkan agar masyarakat Kutai Timur tidak hanya menjadi penonton dari pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi menjadi pelaku utama pembangunan,” katanya.
Ia berharap anak-anak muda Kutim memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja sehingga peluang kerja di daerah dapat diisi oleh tenaga kerja lokal.
“Kita ingin anak-anak muda Kutai Timur memiliki kompetensi, memiliki kesempatan dan memiliki masa depan di daerahnya sendiri,” ujar Ardiansyah.
Menurutnya, penguatan pendidikan vokasi juga berkaitan dengan target pembangunan Kutim pada 2026 dan 2027.
Pemerintah daerah menargetkan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), penguatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan PDRB per kapita, penurunan kesenjangan dan kemiskinan, serta pengurangan pengangguran.
Ardiansyah menegaskan pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan penciptaan lapangan kerja.
Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu bagian penting agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan masyarakat secara langsung. (Adv)














