BONTANG — Program Pro RT Rp200 juta menjadi salah satu program unggulan yang dimiliki Pemerintah (Pemkot) Kota Bontang era Neni Moerniaeni-Agus Haris.
Program ini juga merupakan janji politik saat mereka kampanye. Sayang sekali, di tahun ke-2 berjalan pemerintahan mereka, muncul dinamika luar biasa. Masalah anggaran. Yang membuat sejumlah program harus dihentikan. Bahkan dibatalkan.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menjelaskan keuangan Bontang tahun depan sangat minim. Hanya Rp1,5 Triliun.
Maka, berdasarkan hitungan dia, program andalan seperti Pro RT dengan nilai ratusan juta rupiah itu tak mungkin lagi dilaksanakan.
"Jadi program yang Pro RT Rp200 juta itu sudah tidak mungkin lagi. Saya sudah menghitung," jelasnya kepada awak media, Selasa 7 April 2026.
Sebagai gantinya, pemerintah tetap akan melaksanakan mandatory spending atau kewajibannya sebesar 5 persen dari APBD untuk tiap kelurahan.
Jika anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tahun depan sebesar Rp1,5 triliun, artinya ada Rp75 miliar dana kelurahan.
Lebih jauh Neni menjelaskan, untuk penggajian Ketua, Sekretaris, dan Bendahara RT akan diambil dari dana kelurahan tersebut.
"5 persen dana kelurahan untuk gaji RT, sekretaris bendahara RT Rp4 juta kali 499 RT kali 12 bulan itu kurang lebih hampir 24 miliar. Belum lagi kader 1 juta," terangnya.
Adapun untuk tahun 2026, pemerintah Bontang tetap mengalokasikan kurang lebih Rp20 Miliar untuk program ini.
Namun, program yang dikejarkan RT terkesan sama atau copy paste antara RT satu dengan beberapa RT lainnya.
Prinsipnya pemerintah tak mau boncos alias rugi dan mengambil risiko tinggi. Jangan sampai ke depannya mubazir, apalagi anggaran dipangkas.
"Itu mubazir, lebih baik perbaiki infrastruktur," jelasnya.
Hal ini jugalah yang membuat Neni mantap mengalihkan dana RT ke kelurahan. Contohnya Kelurahan Loktuan ada 55 RT, maka pemerintah akan mempertimbangkan pembangunan yang paling penting di 55 RT itu.
"Yang mana nih kira-kira drainase-nya jelek atau BABS-nya tidak bagus, itu yang kita utamakan. Kalau hanya untuk beli tenda, beli piring, beli apa tuh namanya kan sayang uangnya," pungkasnya (adv)













