Dibaca
9
kali
Paguyuban Ikatan Keluarga Bima Dompu (Ikabido) Nusa Tenggara Barat (NTB) Bontang turut serta mengikuti Bontang City Carnaval (BCC), Sabtu (19/10/2024). (aset: yub/katakaltim)

Warga Bima-Dompu NTB Tampilkan Busana Rimpu dan Pentaskan Tari Haju Jati dalam Bontang City Carnival, Ini Maknanya

Penulis : Yub
 | Editor : Redaksi
20 October 2024
Font +
Font -

BONTANG — Paguyuban Ikatan Keluarga Bima Dompu (Ikabido) Nusa Tenggara Barat (NTB) Bontang turut serta mengikuti Bontang City Carnaval (BCC), Sabtu (19/10/2024).

Peserta dari Ikabido menjadi salah satu peserta yang paling sukses dan menarik perhatian para penonton.

Ikabido merupakan salah satu paguyuban di Bontang yang menaungi 3 kabupaten dan kota Provinsi NTB yaitu Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu.

Baca Juga: Pejabat sementara Wali Kota Bontang, Munawar dalam agenda Bontang City Carnaval (BBC) sebagai rangkaian dari peringata hari ulang tahun Kota Bontang yang ke-25. (aset: prokompim)Meriah Bontang City Carnival, Munawwar Menilai Simbol Persatuan Semakain Kuat

Ketiga daerah ini memiliki adat budaya, tradisi dan bahasa daerah yang sama yakni bahasa Bima, dengan hasil alam terkenal susu kuda liar, bawang merah dan madu Bima.

Pada pelaksanaan BBC mereka menggunakan busana Rimpu. Busana tradisional budaya wanita muslimah daerah Bima-Dompu NTB.

Busana ini berbentuk hijab dengan menutup kepala, wajah dan tubuh menggunakan sarung Nggoli hasil tenunan tradisional daerah Bima - Dompu.

Rimpu terdiri dari 2 jenis, pertama Rimpu Mpida yakni busana tradisional budaya gadis daerah Bima-Dompu yang belum menikah, di mana seluruh badan tertutup sarung Nggoli mulai dari kaki sampai kepala dan hanya terlihat mata.

Kedua Rimpu Mbolo yakni busana tradisional budaya wanita daerah Bima-Dompu yang sudah menikah, seluruh badan tertutupi sarung Nggoli mulai dari kaki sampai kepala dan hanya terlihat wajah saja.

Selanjutnya, Ikabido juga mempersembahkan tari Haju Jati, merupakan tari tradisional budaya daerah Bima-Dompu yang bermakna kekaguman pada kayu jati yang kuat dan tahan lama.

Artinya menunjukan bahwa masyarakat daerah Bima-Dompu tangguh, tumbuh berkembang dan bertahan hidup dalam kondisi apapun seperti pohon kayu jati.

Atas penampilan tersebut, Ketua Ikabido, Arif Mulyadi mengucapkan terima kasih dan sangat mengapresiasi kepada peserta.

Bahkan kata dia, timnya menampilkan keindahan dan kesempurnaan. “Alhamdulillah, tim kami tampil secara sempurna.”

Arif Mulyadi berharap, tradisi ini tidak hanya dipertahankan tetapi juga berkembang di masa mendatang.

“Acara ini harus terus berlanjut dan berkembang dengan inovasi yang memperkaya budaya serta mempererat kebersamaan masyarakat," pungkasnya. (*)

Font +
Font -
# ePaper
Lebih Banyak >