PENAJAM — 10 peserta bersaing ketat dalam Lomba jurnalistik ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat SMA/SMK se-Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Agenda itu berlangsung pada Rabu 29 April 2026. Mereka beradu kemampuan menulis, berupaya membuktikan bahwa mereka punya kualitas literasi yang tinggi.
Dari hasil penilaian dewan juri yang berasal dari kalangan jurnalis, 3 nama berhasil menempati posisi teratas.
Juara I diraih Hanifah Tasya Andira dari SMAN 2 PPU, disusul Yunita Astutik dari SMAN 8 PPU sebagai juara II, dan Bilqis Muthia Mumtaz dari SMAN 3 PPU di posisi ketiga.
Raut bahagia tak bisa disembunyikan Yunita saat mengetahui dirinya masuk di deretan pemenang. Ia bahkan langsung mengabarkan informasi gembira itu kepada orang tuanya.
“Aku langsung telepon orangtua, memberitahukan kalau juara dua lomba jurnalistik,” ujarnya penuh haru usai lomba yang dipusatkan di SMKN 4 PPU.
Dewan juri, Andi Berbi Ollan Yunus, menjelaskan penilaian lomba jurnalistik menitikberatkan pada beberapa aspek utama.
Konten dan substansi menjadi komponen terbesar dengan bobot 50 persen, sementara kaidah jurnalistik dan penggunaan bahasa masing-masing 25 persen.
Menurutnya, para peserta memiliki potensi yang cukup menonjol. Minat membaca dan menulis terlihat kuat, bahkan keberanian melakukan wawancara dengan narasumber sudah cukup baik.
“Diksi mereka kaya, berani menggali informasi. Hanya saja, unsur 5W+1H masih perlu diperkuat. Secara umum penggunaan bahasa baku sudah cukup baik, tinggal diasah lagi,” jelasnya.
Sementara itu, PIC pelaksana FLS3N PPU, Endy Gunawan, menyebut total peserta tahun ini mencapai 267 siswa dari berbagai sekolah.
Tingginya partisipasi dinilai sebagai indikator positif dalam pembinaan karakter dan prestasi pelajar di daerah.
Namun, pelaksanaan kegiatan juga dihadapkan pada tantangan efisiensi anggaran. Jumlah juri di setiap cabang lomba tahun ini dibatasi hanya satu orang, berbeda dengan tahun sebelumnya.
“Pendanaan bersumber dari iuran sekolah yang sudah memiliki pagu anggaran. Ini murni gotong royong, bukan bantuan tambahan,” terangnya.
Ia juga menambahkan, FLS3N tahun 2026 menjadi momen bersejarah bagi PPU karena untuk pertama kalinya menggabungkan tiga jenjang pendidikan SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah dalam satu rangkaian kegiatan.
Menurutnya, konsep ini membuat suasana kompetisi jauh lebih hidup dan kompetitif dibandingkan sebelumnya yang digelar terpisah.
“Pesertanya lebih banyak, atmosfer lombanya juga lebih terasa,” katanya.
Kepala SMKN 4 PPU, Esti Dwi Lestari, selaku tuan rumah menyatakan pihaknya telah berupaya maksimal dalam menyiapkan fasilitas meski dengan keterbatasan yang ada.
“Ibarat orang mantu, kami sudah habis-habisan menyiapkan semuanya. Harapannya, keterbatasan ini tidak mengurangi kualitas penampilan peserta,” tutur Esti.
Selain jurnalistik, FLS3N PPU juga mempertandingkan berbagai cabang lain, seperti menyanyi putra dan putri, kriya, komik digital, baca puisi, desain poster, cipta puisi, fotografi, film pendek, menulis cerpen, hingga tari kreasi.
Setelah tingkat kabupaten rampung, para juara pertama dari masing-masing cabang akan dipersiapkan untuk melanjutkan ke tingkat provinsi, dengan pembinaan lanjutan oleh sekolah di bawah koordinasi Cabang Dinas Pendidikan Kaltim. (Bey)














