Payload Logo
Kaltim

Hendri Kurniawan, Ketua Indonesian Hotel General Manager Association jelaskan dampak pemadaman listrik bergilir terhadap industri perhotelan, Kamis (9/7/2026) (Dok: Deni/katakaltim)

50 Persen Okupansi, Hotel di Kaltim Sebut Efisiensi Pemerintah Lebih Berdampak dari Pemadaman PLN

Penulis: Deni Rahman | Editor: Agung
9 Juli 2026

SAMARINDA — Pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) mulai memicu kekhawatiran terhadap beberapa sektor industri.

Namun bagi sektor perhotelan, dampak langsung gangguan listrik sejauh ini masih terkendali.

Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Kaltim, Hendri Kurniawan, memastikan hotel telah memiliki sistem antisipasi melalui penggunaan genset saat pasokan listrik dari PLN terhenti.

Ia menjelaskan, jadwal pemadaman yang telah diumumkan sebelumnya memberi waktu bagi pengelola hotel untuk menyiapkan sistem operasional.

“Kalau sekarang pemadamannya sudah terjadwal, jadi kami bisa antisipasi. Tinggal pindah ke genset,” ucapnya kepada awak media, Kamis (9/7/2026).

Di Hotel Grand Verona, operasional didukung genset berkapasitas 555 KVA yang rutin diperiksa, mulai dari aki, oli hingga sistem pendingin.

“Kalau mati lampu tinggal switch ke genset,” katanya.

Selain itu, hotel juga menyiapkan cadangan bahan bakar untuk mengantisipasi pemadaman dalam durasi panjang.

“Rata-rata hotel punya stok sekitar 5.000 liter. Jadi kalau mati listrik seharian pun masih aman,” ungkap Hendri.

Meski operasional tetap berjalan, penggunaan genset berdampak pada peningkatan biaya.

Di Grand Verona, konsumsi solar mencapai sekitar 32 liter dalam tiga jam atau setara sekitar Rp700 ribu setiap penggunaan.

Namun biaya tersebut dinilai sebagai konsekuensi untuk menjaga layanan hotel tetap berjalan.

Kekhawatiran pengelola hotel lebih mengarah pada potensi kerusakan peralatan elektronik jika pemadaman terjadi berulang.

“Kalau sering mati mendadak memang dikhawatirkan peralatan cepat rusak,” ucapnya.

Ia menilai sektor perhotelan relatif lebih siap dibandingkan usaha lain seperti kuliner yang tidak memiliki genset dan berisiko mengalami kerugian akibat bahan makanan rusak.

Meski demikian, tekanan utama industri hotel saat ini justru bukan berasal dari pemadaman listrik.

Hendri menegaskan, penurunan okupansi lebih dipicu berkurangnya kegiatan pemerintah akibat kebijakan efisiensi anggaran.

“Yang paling terasa sebenarnya efisiensi pemerintah. Selama ini market kami banyak dari government. Sekarang kami harus mencari penggantinya,” kata Hendri.

Saat ini, tingkat hunian hotel di Kaltim berada di kisaran 50 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia berharap, pemerintah dapat mengusulkan kegiatan berskala nasional maupun regional di Kaltim.

“Hotel itu bukan berdiri sendiri. Di belakang kami ada petani, peternak, pemasok sayur, telur, daging sampai UMKM. Kalau hotel sepi, semuanya ikut terdampak,” pungkasnya. (Deni)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025