Payload Logo
Dinkes Kaltim

Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimi imbau masyarakat jangan mendiskriminasi pengidap HIV, Sabtu (4/7/2026) (Dok: Deni/katakaltim)

180 Kasus HIV Baru di Samarinda, Dinkes Kaltim: Jangan Ada Diskriminasi

Penulis: Deni Rahman | Editor: Agung
6 Juli 2026

SAMARINDA — Munculnya sekitar 180 kasus baru HIV di Kota Samarinda dalam beberapa waktu terakhir memicu kekhawatiran di tengah masyarakat.

Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) merespons dengan upaya penanggulangan melalui peningkatan skrining, khususnya pada kelompok berisiko.

Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan lonjakan angka tersebut tidak serta-merta mencerminkan peningkatan penularan HIV secara signifikan.

Ia menyebut, banyak kasus terungkap justru karena semakin masifnya kegiatan deteksi dini lewat skrining.

"Edukasi, penjangkauan, dan skrining kepada kelompok yang berisiko," ucapnya kepada awak media di Kota Samarinda, Sabtu (4/7/2026).

Menurut Jaya, skrining menjadi langkah paling efektif menemukan kasus sejak dini, mengingat banyak pengidap HIV tidak menyadari kondisi mereka pada tahap awal karena minimnya gejala yang dikenali.

Dinkes Kaltim menghimbau masyarakat yang merasa memiliki faktor risiko agar melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan.

"Semua yang memiliki risiko harus diperiksa. Setelah diketahui hasilnya, mereka segera diberikan pengobatan agar virus bisa dikendalikan sejak dini," jelasnya.

Dengan terapi Antiretroviral (ART) yang dijalani secara rutin, kadar virus dalam tubuh dapat ditekan, bahkan tidak terdeteksi, sehingga kualitas hidup penderita tetap terjaga.

"Obat ART sekarang bisa menurunkan jumlah virus di dalam darah sampai sangat rendah, bahkan tidak terdeteksi. Dengan pengobatan yang rutin, daya tahan tubuh penderita tetap baik," kata Jaya.

Selain aspek medis, Jaya mengingatkan pentingnya menghapus stigma buruk terhadap orang dengan HIV (ODHIV).

Diskriminasi sosial, menurut Jaya, masih menjadi tantangan serius dalam upaya penanganan kasus HIV yang marak di Kaltim.

"Kalau diobati secara rutin, mereka bisa hidup normal seperti orang lain. Yang tidak boleh adalah memberikan diskriminasi kepada mereka," tegasnya.

Ia juga meluruskan persepsi masyarakat yang seringkali salahpaham terkait penyebab penularan HIV.

Virus tersebut, kata Dia, tidak menyebar melalui interaksi sosial sehari-hari seperti berjabat tangan, berbincang, bekerja bersama, atau menggunakan fasilitas umum.

"HIV jauh lebih sulit menular dibanding TBC. Kalau TBC bisa menular melalui udara ketika seseorang batuk atau berbicara. HIV tidak seperti itu, sehingga masyarakat tidak perlu takut berinteraksi dengan ODHIV selama tidak ada perilaku yang memang berisiko menularkan virus," ujarnya.

Jaya menambahkan, upaya preventif dan penemuan kasus aktif akan terus digencarkan agar penanganan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi AIDS.

"Kalau kita bisa menemukan kasus lebih cepat, memberikan pengobatan lebih dini, dan masyarakat tidak lagi memberikan stigma kepada ODHIV, maka pengendalian HIV di Kalimantan Timur akan semakin baik," pungkasnya. (Deni)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025