Payload Logo
KADIN

Rapat KADIN (dok: istimewa)

Menakar Urgensi Forum TJSL di Bontang: Antara Seremoni Kosong atau Strategi Nyata Pertumbuhan Ekonomi?

Penulis: Amriadi | Editor: Agung
22 Agustus 2026

Penulis: Amriadi (Ketua KADIN Bontang)

BONTANG — Keberadaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau yang lazim dikenal sebagai Corporate Social Responsibility (CSR), kerap menjadi tumpuan harapan dalam mengakselerasi pembangunan daerah.

Namun, efektivitas forum yang mengaturnya kembali dipertanyakan menyusul mencuatnya sorotan dari para pelaku usaha.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Bontang sebagai induk organisasi resmi yang menaungi dunia usaha dan asosiasi bisnis di daerah dikabarkan tidak dilibatkan secara optimal dalam perumusan kebijakan di forum TJSL.

Situasi ini memantik pertanyaan mendasar di tengah masyarakat: Apakah forum TJSL selama ini hanya sekadar ajang seremonial tahunan, ataukah benar-benar dirancang sebagai instrumen strategis untuk mencari solusi konkret demi pertumbuhan ekonomi Kota Bontang ke depan?

Suara Kadin: Asosiasi Pengusaha Sebagai "Penonton" di Rumah Sendiri?

Sebagai representasi sektor swasta yang paling memahami denyut nadi perekonomian riil, Kadin seharusnya berada di garis terdepan dalam penyelarasan program TJSL perusahaan.

Ketika asosiasi pengusaha dipinggirkan dari meja perundingan forum TJSL, dikhawatirkan arah kebijakan dana korporasi menjadi tidak tepat sasaran dan terisolasi dari kebutuhan riil pasar.

Banyak pihak menilai, ketidakterlibatan Kadin berisiko membuat program TJSL berjalan secara parsial.

Padahal, sinergi antara pemerintah, korporasi pemilik modal, dan asosiasi pengusaha lokal merupakan kunci utama dalam mengatasi berbagai persoalan krusial—mulai dari pengentasan pengangguran, penyerapan tenaga kerja lokal, hingga pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Seremoni Belaka vs Solusi Berkelanjutan

Pertanyaan besar kini mengarah pada sejauh mana komitmen transparansi dan efektivitas dari forum TJSL di Kota Bontang.

Jika forum TJSL hanya diisi dengan laporan seremonial penyaluran dana tanpa pelibatan ekosistem bisnis secara utuh, dikhawatirkan program ini sekadar menggugurkan kewajiban hukum (compliance) tanpa memberikan multiplier effect (dampak berganda) yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat Bontang.

Katalisator Pertumbuhan Ekonomi: Sebaliknya, jika forum ini bertransformasi menjadi ruang kolaborasi inklusif—dengan merangkul Kadin dan asosiasi sektoral—dana TJSL dapat disetir secara strategis.

Mulai dari membangun kemandirian ekonomi pasca-industri hingga memperkuat rantai pasok lokal (local supply chain) yang melibatkan pengusaha dan tenaga kerja setempat.

Menagih Perubahan Paradigma

Masyarakat dan para pelaku usaha lokal kini menanti langkah nyata dari para pemangku kebijakan di Bontang.

Pengelolaan dana TJSL tidak boleh dipandang sebatas instrumen karitatif (amal) semata, melainkan instrumen investasi sosial jangka panjang.

Sudah saatnya pintu forum TJSL dibuka lebar bagi Kadin dan asosiasi pengusaha lokal. Tanpa pelibatan yang substansial, dikhawatirkan forum tersebut hanya menjadi panggung seremonial belaka—sementara target besar untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi Kota Bontang yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan hanya akan jalan di tempat.

Bagaimana pandangan Anda melihat sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dalam pengelolaan dana TJSL di Bontang saat ini? (*)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025