Payload Logo
DPD RI

Anggota DPD RI Dapil Kaltim, Andi Sofyan Hasdam (dok: Pribadi)

Menyoroti Kasus Siswa Bunuh Diri di Kabupaten Ngada NTT

Penulis: | Editor: Agu
3 Februari 2026

Penulis: Andi Sofyan Hasdam, DPD RI Dapil Kaltim

NTT — Seandainya bukan harian Kompas yang mengangkat kasus ini, mungkin peristiwa ini berlalu begitu saja tanpa menarik perhatian publik.

Masalah ini jangan dilokalisir di salah satu kabupaten di NTT saja, namun harus diurai akar masalahnya agar bisa diselesaikan, karena persoalan seperti ini terjadi diseluruh Indonesia.

Kejadian bunuh diri bukan persoalan biasa. Keputusan bunuh diri dilakukan oleh orang yang menderita "depresi" yang salah satunya diakibatkan oleh tekanan hidup yg tidak memperoleh jalan keluar.

Apa yang dialami oleh YBS (10 thn) seorang siswa SD Kelas IV di Kabupaten Ngada NTT mengakhiri hidupnya dengan mengguntung diri di pohon cengkeh, bukan keputusan sesaat dan tiba-tiba.

Ketika dia meminta uang sepuluh ribu rupiah kepada ibunya untuk membeli peralatan sekolah dan dijawab tidak ada, itu hanya "trigger" yang membuat YBS mengambil keputusan nekat.

Berbagai kesulitan hidup yang dialami menyebabkan tekanan mental yang berakibat YBS putus asa karena tidak lagi melihat jalan keluar untuk melanjutkan hidup selanjutnya.

YBS memang hidup dalam kondisi miskin ekstrim, terlebih ibunya yang seorang janda harus menghidupi lima orang anak dengan sumber penghasilan tidak menentu.

Dari peristiwa tragis ini kita belajar. Seharusnya dilakukan pendataan cepat disemua daerah, jumlah keluarga (jumlah penduduk) yang hidup dalam kondisi miskin ekstrim, yaitu orang atau keluarga yang tidak bisa memenuhi kebutuhan minimalnya sehari-hari.

Lebih menyedihkan jika kita menyaksikan tempat tinggalnya. Saya pernah meneteskan air mata menyaksikan seorang yang jompo tidur pada alas tikar yang tidak layak, dalam rumah yang tidak lebih dari sebuah kandang hewan.

Saya spontan mengatakan kalau orang ini mati dalam kondisi seperti ini maka mulai dari tetangganya, Ketua RT-nya, lurah, camat dan Kepala Daerahnya masuk neraka semua.

Betapa tidak, keluarga miskin ekstrem bukan peristiwa mendadak. Kesusahan mereka telah disaksikan sehari-hari oleh tetangganya, masyarakat sekitarnya, ketua RT-nya.

Dan paling aneh kalau keluarga seperti ini tidak mendapatkan bantuan tunai langsung karena kesalahan data.

Dari kasus anak bvnuh diri di Kabupaten Ngada adalah contoh tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan

Bagi kita yang hidup di kota atau hidup dalam kondisi berkecukupan, rasanya tidak terjangkau nalar kalau ada orang mengakhiri hidup karena putus asa mencari uang Sepuluh ribu rupiah, uang yang jumlahnya jauh lebih kecil dari yang digunakan anak kita menikmati jajanan setiap hari.

Namun itulah kondisi nyata bagi mereka yang hidup di desa, yang berharap menyambung hidup dari hasil panen atau kerja serabutan, uang sepuluh ribu sangat berharga dan tentu dengan penghasilan yang sangat minim, mereka lebih mementingkan membeli bahan pokok untuk dimakan ketimbang membeli alat sekolah buat anaknya.

Mendata jumlah masyarakat miskin ekstrem adalah tugas mendesak dan secepatnya dituntaskan.

Bedah rumah harus diprioritaskan, berikan bantuan langsung dari APBD dan jika masih mampu bekerja, beri mereka sumber penghasilan dengan bekerja sebagai petugas kebersihan, pekerja proyek fisik atau beri mereka modal untuk membuka usaha kecil di pasar atau pedagang gerobak.

Sekarang bukan saatnya ber "teori". Mereka memerlukan uluran tangan dan kerja nyata, apalagi menolong orang miskin buat mengangkat harkat hidupnya merupakan "jargon kampanye" yang disuarakan oleh seluruh calon pejabat eksekutif dan legislatif. (*)

Andi Sofyan Hasdam (DPD RI Dapil Kaltim)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025