SAMARINDA — Kepastian hak berjualan bagi pedagang Pasar Pagi akhirnya mendapat penjelasan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.
Pemkot Samarinda menetapkan alokasi 480 kios bagi 480 pedagang pemilik Surat Keterangan Tempat Usaha Berjualan (SKTUB) dengan skema satu pedagang mendapatkan satu lapak.
Keputusan tersebut disampaikan Wali Kota Samarinda, Andi Harun, saat menerima aspirasi ratusan pedagang SKTUB yang menggelar aksi di Balai Kota Samarinda, Selasa 10 Februari 2026.
Aksi itu digelar sebagai bentuk keresahan para pedagang yang merasa pemilik SKTUB belum sepenuhnya terakomodir pasca revitalisasi Pasar Pagi.
Mereka meminta kejelasan terkait pembagian kios agar tidak terjadi ketimpangan di antara pedagang.
Menanggapi itu, Andi Harun menegaskan Pemkot mengambil langkah awal dengan menerapkan prinsip satu nama satu kios sebagai dasar pembagian lapak.
“Hari ini saya umumkan, satu nama pemilik SKTUB mendapatkan satu kios atau lapak. Total ada 480 yang kita tetapkan hari ini dan segera diinput datanya,” ujar Andi Harun.
Ia menjelaskan, pemenuhan seluruh tuntutan secara bersamaan justru berpotensi menimbulkan masalah baru, karena keterbatasan jumlah kios yang tersedia.
Oleh sebab itu, kebijakan ini dipilih sebagai solusi sementara agar pembagian bisa berjalan adil dan terukur.
Selain memastikan keadilan distribusi, Andi Harun juga menegaskan bahwa Pasar Pagi tidak akan menerapkan sistem sewa-menyewa lapak.
Setiap kios hanya boleh digunakan oleh pedagang yang namanya tercatat resmi dan dimanfaatkan langsung untuk aktivitas berdagang.
“Kami tidak ingin ada spekulan atau tuan tanah di pasar. Lapak harus benar-benar dipakai berdagang, bukan dipindahtangankan,” tegasnya.
Pemkot Samarinda juga membuka kemungkinan adanya kios tersisa setelah proses verifikasi data selesai.
Jika itu terjadi, pembagian lanjutan akan diumumkan secara terbuka dan dapat diakses oleh masyarakat karna akan berbasis digital.
“Semua penyewa akan kita publish melalui digital informasi. Bahwa hari ini belum stabil, ya namanya sebuah sistem baru terus diperbaiki dan dibangun,” tandasnya.
“Jadi siapa nanti dilapak satu, di lantai satu, lantai dua, di lantai tiga, akan terlihat. Bapak, Ibu bahkan, bukan cuma Bapak dan Ibu, seluruh masyarakat Samarinda bisa mengakses,” pungkasnya. (Ali)














