Payload Logo
Ketua KAHMI Bontang

Presidium MD KAHMI Kota Bontang, Taqiyuddin (dok: istimewa)

Pembangunan Bontang dan Pembiusan Pemuda Aktivisnya?

Penulis: Taqiyuddin | Editor: Agung
30 Maret 2026

Penulis: Taqiyuddin, Presidium MD KAHMI Kota Bontang

KATAKLTIM — Bontang menjadi bagian dari kota di Provinsi Kalimantan Timur, luas wilayahnya sekitar 406,70 km² terdiri dari luar daratan 147,8 km² dan luas laut 349,7 km² (sekitar 70%), kota yang memiliki potensi masa depan di sektor maritim.

Hal yang juga menjadi daya tarik kota ini ialah terbangunnya industri-industri pengolahan berskala nasional bahkan internasional seperti PT. Pupuk Kaltim, PT. LNG Badak, PT. EUP, dan berdirinya pabrik Soda Ash menjadi industri hilirisasi yang nantinya akan menopang kebutuhan lokal dan nasional seperti keramik, kaca, detergen, tekstil, pulp, dan kertas.

‎Kota yang memiliki berbagai macam kekayaan sumber daya termasuk potensi sumber daya lautnya, tak heran jika dalam berbagai survei, Kota Bontang menjadi salah satu kota terkaya di Indonesia berdasarkan PDRB per kapita per tahun (Pendapatan total dibagi jumlah penduduk).

Jumlah penduduknya tahun 2025 tercatat sebanyak 194.606 jiwa, berdasarkan Data Konsolidasi Bersih (DKB) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Di lain sisi mayoritas penduduknya adalah usia produktif (15-59 tahun) yang mencapai sekitar 67,73%.

‎Usia produktif yang erat kaitannya dengan usia muda menjadi salah satu keunggulan tersendiri bagi Kota Bontang. Namun apakah dengan banyaknya jumlah kelompok pemuda serta merta dapat mewujudkan Visi Kota Bontang 2025-2029 "Terwujudnya Kota Bontang sebagai Kota Industri dan Jasa yang Maju, Berkelanjutan, Ekonomi Dinamis, dan Sejahtera sebagai Daerah Mitra IKN Baru"?

Lalu sampai di mana kita membaca fungsi dan peran kelompok pemuda dan aktivisnya dalam mempercepat pembangunan sesuai dengan visi kota yang telah ditetapkan?

‎Benar adanya bahwa semua perubahan atau hal yang ingin diubah (anti status quo) diletakkan pada pundak pemuda itu sendiri dengan ditopang oleh kekuatan Moral dan Idealisme; agen of change, social of control, dan moral force.

“Idealisme adalah kekayaan atau kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda,” demikian kata Tan Malaka penulis buku Madilog.

‎Membaca realitas hari ini, peran dan fungsi pemuda dengan kemewahan idealismenya sebagai penggerak perubahan tatanan sosial, politik yang demokratis dan ekonomi yang berkeadilan telah dinyatakan menjauh atau bahkan menghilang dari jati diri pemuda aktivisnya.

Selanjutnya, kita dapat mengajukan pertanyaan lainnya: Mengapa peran fungsi pemuda aktivisnya tak nampak dan tak dapat lagi dirasakan dalam dinamika sosial kemasyarakatan dan apa saja faktor-faktor penyebab hal itu terjadi?

‎Menurut pengamatan saya, setidaknya ada beberapa poin penyebabnya, yaitu: 1. Rendahnya literasi yang di miliki, 2. Sikap apatis dan pragmati, 3. Dorongan berproses secara instan, 4. Mengentalnya Mental individualistik (memikirkan kepentingan diri sendiri).

Dengan demikian keempat faktor yang telah saya sebutkan saya istilahkan sebagai ANESTESI atau pembiusan pemuda aktivis secara langsung maupun tidak langsung.

Gejala anestesi yang timbul di kalangan kelompok pemuda aktivis sangatlah erat kaitannya dengan keempat faktor di atas. Kelompok pemuda aktivis tidak lagi dapat berpikir dan bertindak mandiri secara personal maupun secara organisasi.

Ditambah termotivasi oleh keinginan sukses menjadi populer, kaya instan secara materi/financial, berkeinginan kuat masuk bagian dari kalangan elit pengendali kekuasaan politik, dan ikut menikmati kue APBD menjadi dorongan utama dibandingkan memikirkan nasib kelompok masyarakat yang termarginalkan dari pembangunan daerah.

‎Kota Bontang salah satu kota terkaya di Republik ini. Namun pernah kah kita bertanya; berapa jumlah penganggurannya; berapa jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan dan kemiskinan ekstrem; berapa banyak Rumah Tangga yang belum menikmati rumah yang layak huni; berapa jumlah anak dan remaja yang putus sekolah dan terjebak penggunaan Narboka dan seks bebas; dan yang juga patut disoroti berapa jumlah gini rasio (tingkat ketimpangan distribusi pendapatan atau pengeluaran).

Dari kenyataan yang ada tanpa menutup mata bahwa ketimpangan sungguh nampak di kota ini, apakah itu ketimpangan ekonomi, sosial, dan ketimpangan pembangunan infrastruktur yang boleh dibilang belum merata per wilyah-wilayahnya.

‎Dengan ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di tengah masyarakat, maka gejala anestesi pembiusan di mana istilah ini berarti kesadaran yang hilang sementara segera mungkin dapat kembali pulih agar kesadaran peran dan fungsi idealisme bagi pemuda aktivisnya dapat berjalan secara maksimal.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk membangunkan kembali kesadaran pemuda aktivis sebagai peran pelopor pembangunan dan agen perubahan?

‎Beberapa langkah dan fokus dalam mengembalikan peran dan fungsi pemuda aktivis :

‎1. Menjadi Agent of Change dan Inovator. Adaptif terhadap Perubahan: Pemuda harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, khususnya diera digital, untuk mendorong transformasi.

‎2. Berpikir Kritis & Kreatif: Memanfaatkan keunggulan pemuda dalam ilmu pengetahuan dan fisik untuk menciptakan solusi atas tantangan sosial.

‎3. Penggerak Pembangunan: Mengambil peran dalam pembangunan daerah maupun nasional, baik fisik maupun non-fisik.

‎4 Nasionalisme & Tanggung Jawab Sosial: Menjunjung tinggi Pancasila dan peduli terhadap isu-isu kemasyarakatan.

‎Pada akhir ulasan ini, saya mengutip perkataan Ali Syari'ati sebagai seorang sosiolog dan tokoh revolusioner Iran sebagai berikut, “Jika kau mampu merasakan derita, berarti kau hidup; Jika kau bisa merasakan derita orang lain, berarti kau MANUSIA”. (*)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025