Payload Logo
Sepatu Lokal PPU

Sepatu hasil olahan Pengrajin Lokal PPU. (Dok: KataKaltim)

Pengrajin Sepatu PPU Ditarget Produksi 100 Pasang Sehari, Harga Berkisar 200-250 Ribu Rupiah

Penulis: Gung | Editor: Afri
15 Oktober 2026

PENAJAM – Pengrajin sepatu di Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), berpeluang mendapatkan pasar baru melalui rencana pemanfaatan produk lokal untuk memenuhi kebutuhan siswa penerima Kartu Penajam Cerdas (KPC).

Sekretaris Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (KUKM Perindag) PPU, Syamsul Adha, mengatakan pemerintah daerah tengah menyiapkan tindak lanjut pelatihan pembuatan sepatu yang telah diberikan kepada masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.

Pelatihan tersebut melibatkan sekitar 10 kelompok masyarakat. Para peserta berasal dari sejumlah desa, di antaranya Sumbersari, Sebakung Jaya, Gunung Intan, dan Babulu Laut.

Menurut Syamsul, keterampilan yang telah diperoleh para peserta perlu dikembangkan menjadi kegiatan produksi yang berkelanjutan.

Karena itu, pemerintah berupaya membuka peluang pasar agar hasil pelatihan tidak berhenti pada kemampuan membuat sepatu, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi pengrajin.

“Yang kita latih itu kurang lebih 10 kelompok. Nanti pengrajinnya kita siapkan, termasuk bagaimana pembiayaan untuk para pengrajin ini,” ujarnya, Kamis (15/10/2026).

Syamsul memperkirakan, setiap kelompok mampu memproduksi sekitar 10 pasang sepatu per hari.

Jika seluruh kelompok bekerja dengan kapasitas tersebut, produksi secara keseluruhan berpotensi mencapai 100 pasang per hari.

Dengan asumsi produksi berlangsung enam hari dalam seminggu, jumlahnya dapat mencapai sekitar 600 pasang per minggu.

Kapasitas tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menyiapkan produksi untuk memenuhi kebutuhan sekitar 5.880 siswa penerima manfaat KPC.

Meski demikian, kemampuan produksi aktual masih perlu dipastikan melalui kesiapan tenaga kerja, ketersediaan bahan baku, dan keberlangsungan kegiatan setiap kelompok.

Dari sisi bahan baku, Syamsul mengakui pengrajin masih mengandalkan pasokan dari Jawa Barat.

Sementara itu, proses pembuatan dan pengembangan desain telah dilakukan oleh masyarakat setempat.

“Bahan bakunya masih mengambil dari luar, tetapi desain dan pembuatannya sudah kita kerjakan di sini. Ke depan, kita juga akan mengembangkan bahan baku lokal secara bertahap,” jelasnya.

Untuk produk yang akan dipasarkan kepada siswa, pemerintah berencana menentukan desain seragam dengan memasukkan identitas khas PPU.

Sejumlah model telah disiapkan dan akan dipilih melalui pembahasan bersama, termasuk kemungkinan meminta masukan dari kepala daerah.

Harga sepatu diperkirakan berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per pasang. Namun, penetapan harga akhir masih perlu disesuaikan dengan desain, bahan, dan kebutuhan produksi.

Syamsul mengatakan pemerintah juga tengah menyiapkan skema pembiayaan bagi pengrajin, termasuk kemungkinan melibatkan sektor swasta.

Sementara itu, distribusi produk direncanakan melalui toko-toko yang nantinya ditunjuk sebagai distributor.

Produksi ditargetkan mulai sekitar Desember 2026, setelah petunjuk teknis dan mekanisme pelaksanaan selesai disiapkan.

Sepatu tersebut direncanakan untuk mendukung kebutuhan siswa pada tahun ajaran 2027/2028.

Melalui pengembangan usaha ini, pemerintah daerah berharap keterampilan masyarakat di Kecamatan Babulu dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif.

Selain memenuhi kebutuhan pasar pendidikan, produksi sepatu lokal juga berpotensi membuka peluang pendapatan bagi pengrajin apabila rencana tersebut terealisasi. (Adv)

Dilihat 695 kali