Payload Logo
Bontang

Nelayan Bontang, Saharuddin, saat dibawa ke RSUD Taman Husada Kota Bontang (dok: Ayub/katakaltim)

Sepekan Minum Air Asin, Nelayan Bontang Pulang dari Ambang Kematian

Penulis: Agung | Editor:
3 April 2026

BONTANG — Laut tak selalu ramah bagi mereka yang menggantung harap dan hidup di atasnya.

Bagi Saharuddin (39), nelayan asal Berbas Pantai, Kota Bontang, bentangan biru itu berubah jadi kesunyian penuh ujian. Tempat ia bertaruh nyawa selama lebih sepekan.

Saharuddin dikabarkan berangkat melaut pada 23 Maret 2026. Seperti rutinitas yang telah ia jalani tiap hari. Tak ada tanda bahaya.

Namun, di tengah laut lepas, nasib berkata lain. Kapal yang satu-satunya harapan mencari penghidupan, justru memberi tanda-tanda kegagalan. Tongkat kemudi patah.

Di dalam dunia nelayan, seperti yang umum orang ketahui, kerusakan itu bukan semata-mata kendala teknis. Itu adalah ancaman yang membuat panik.

Ancaman itu bisa saja tanpa kendali arah, laut bisa membawanya ke mana pun. Dan tanpa kepastian bisa kembali. Mati, dan tenggelam.

Melawan “Takdir”

Cobaan tak berhenti di situ. Komponen lain yang disebut “has” ikut rusak.

Kapal yang awalnya jadi pelindung berubah jadi benda rapuh. Sewaktu-waktu bisa menyerah pada gelombang.

Di tengah keterbatasan itu, Saharuddin memilih melawan “takdir”.

Tak ada rasa menyerah. Tanpa alat memadai. Tanpa bantuan. Ia merakit ulang kemudi kapalnya memakai kunci-kunci dan karet.

Cara itu memang amat sederhana, tapi di situlah seluruh harapannya bertumpu.

“Dia akali sendiri. Pakai kunci-kunci dan karet supaya bisa digunakan lagi,” ucap sang istri, Nasriani, Kamis (2/4/2026), dengan suara bergetar saat ditemui di RSUD Taman Husada Bontang.

Dramatis: Minum Air Laut

Hari-hari berikutnya menjadi ujian yang lebih berat dan dramatis. Persediaan air minumnya mulai habis.

Dahaga Saharuddin pun jadi musuh yang sangar jelas. Ia harus bertahan di tengah ujian mematikan ini.

Dalam kondisi terdesak, Saharuddin harus bertindak.

Ia mengambil inisiatif yang selama ini harus dihindari oleh para pelaut: meminum air laut.

Pilihan yang pahit. Tapi itulah satu-satunya cara untuk bertahan lebih lama.

Di saat yang sama, arus laut terus menyeretnya menjauh. Ia bajkan terbawa hingga ke perairan Balikpapan.

Di dalam suasana sunyi, kelaparan, dan dahaga, serta kelelahan dan ketidakpastian, secercah harapan akhirnya datang. Sebuah kapal tugboat melintas.

Pertemuan itu menjadi titik balik bagi dirinya. Dari kapal tersebut, Saharuddin dapat bantuan hingga akhirnya mendekati perairan Samarinda.

Berhasil Pulang

Perjuangannya belum selesai. Ia tetap harus mengandalkan kapal yang nyaris rusak total untuk pulang ke rumah bertemu keluarganya.

Hingga akhirnya pada Kamis, 2 April 2026, sekitar pukul 12.00 Wita, Saharuddin tiba kembali. Ia pulang dengan kapalnya sendiri.

Saharuddin bukan hanya kembali, tapi keluar dari situasi yang nyaris merenggut nyawanya. Ia membawa kisah optimisme bagi manusia.

Keluarga menyambutnya dengan haru. Penantian panjang yang dipenuhi kecemasan akhirnya terbayar.

Tapi kondisi Saharuddin jauh dari kata baik. Tubuhnya lemah. Wajahnya pucat. Dan ia mengeluhkan perih di dada. Semoga segera sembuh tentunya.

Tak lama setelah tiba, ia langsung dibawa ke RSUD Taman Husada Kota Bontang untuk mendapatkan perawatan.

Kini ia masih terbaring. Memulihkan diri dari kelelahan, dehidrasi, dan tekanan fisik yang luar biasa. Tapi satu hal yang pasti. Saharuddin selamat.

Selamat dari Ambang Kematian

Di balik ikan-ikan yang sampai ke darat, ada perjuangan yang tak selalu terlihat. Itu jelas. Ada sosok yang berada di ambang kematian.

Ada risiko yang setiap hari dihadapi para oleh mereka para nelayan. Sunyi, keras, dan sering kali tanpa perlindungan memadai.

Saharuddin telah melewati batas itu. Dan ia pulang. Membawa cerita tentang laut. Yang kali ini hampir saja tidak memberinya jalan kembali. (Agung)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025