KATAKALTIM - Viral streamer kecantikan asal China mendadak kehilangan sekitar 140.000 pengikut hanya dalam semalam akibat filter wajah yang digunakannya saat siaran langsung disebut mengalami gangguan dan memperlihatkan wajah aslinya.
Insiden itu ramai di berbagai media sosial dan kembali memicu perdebatan soal penggunaan filter kecantikan, standar kecantikan digital, hingga keaslian persona influencer di internet.
Dilansir dari Kompas, potongan video momen tersebut menyebar cepat di Reddit, TikTok, dan X pada 12 Mei 2026.
Banyak warganet membahas maraknya penggunaan teknologi pengeditan wajah oleh influencer dan kreator livestream
Menurut unggahan yang beredar, streamer tersebut dikenal memiliki banyak pengikut berkat siaran langsung dengan tampilan wajah yang terlihat jauh lebih muda melalui penggunaan filter digital.
Namun dalam salah satu siaran, filter itu diduga sempat mati beberapa detik sebelum kembali aktif.
Dalam momen singkat tersebut, penonton melihat wajah streamer yang dinilai tampak jauh lebih tua dan berbeda dibanding penampilannya selama ini di layar.
Klip itu kemudian memancing reaksi beragam. Sebagian pengguna media sosial menuduh sang streamer menipu pengikutnya dengan penggunaan filter berlebihan.
Tetapi sebagian lain membelanya dan menilai filter kecantikan sudah menjadi bagian umum dari budaya livestream dan industri influencer saat ini.
Kontroversi semakin meluas setelah potongan video dari platform media sosial China menyebar ke komunitas internasional.
Salah satu unggahan viral di Reddit bahkan mengeklaim streamer tersebut kehilangan lebih dari 140.000 pengikut hanya dalam hitungan jam setelah filter wajahnya bermasalah.
Meski begitu, angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Perangkat lunak pemanis wajah sendiri kini memang lazim digunakan dalam siaran langsung. Teknologi itu dapat mengubah bentuk wajah secara real time, mulai dari menghaluskan kulit, memperbesar mata, hingga membentuk ulang rahang.
Sejumlah kreator bahkan menggunakan pencahayaan khusus dan perangkat siaran tambahan untuk memperkuat efek visual tersebut.
Insiden ini juga memunculkan kritik terhadap budaya “gift” dalam livestream, ketika penonton memberikan hadiah virtual atau donasi kepada kreator favorit mereka.
Banyak pengguna internet mengejek penonton yang rela menghabiskan uang untuk influencer dengan penampilan yang dianggap terlalu dimanipulasi secara digital.
Sebagian komentar menyebut para pengikut telah “tertipu” oleh persona online yang dibentuk melalui filter, pencahayaan, dan perangkat editing.
Namun di sisi lain, ada pula yang menilai reaksi publik terlalu berlebihan dan menunjukkan sikap internet yang keras terhadap perempuan dan isu penuaan.
Sebagian pengguna media sosial mengatakan kasus ini menunjukkan bagaimana livestream yang terlalu diedit dapat menciptakan standar kecantikan tidak realistis bagi audiens, terutama penonton muda.
Perdebatan itu juga menyoroti hubungan parasosial antara influencer dan pengikut mereka, terutama di platform yang membuat kreator bergantung pada citra online yang aspiratif.
Sebuah video komentar di YouTube yang membahas kasus tersebut menyebut industri livestream kecantikan di China kini semakin kompetitif.
Banyak kreator disebut menggunakan filter canggih, sistem pencahayaan profesional, dan alat editing untuk tampil lebih menarik di depan kamera.
Meski menuai kritik, sebagian pengguna internet menilai penggunaan filter berlebihan sebenarnya tidak hanya terjadi di China, melainkan sudah menjadi fenomena umum di berbagai platform media sosial global.
Insiden viral ini pun kembali memicu diskusi soal transparansi penggunaan filter kecantikan dan dampaknya terhadap persepsi publik mengenai kecantikan dan keaslian di era digital.
Sumber: kompas.










