Payload Logo
Samarinda

Ilustrasi tragedi mutilasi di Samarinda (dok: istimewa)

Tragedi Mutilasi di Samarinda

Penulis: Agung | Editor:
23 Maret 2026

SAMARINDA — Tepat di Jalan Anggur, Gang Salon Noni, Kota Samarinda, di dalam rumah sederhana, terjadi peristiwa berdarah, Kamis tengah malam hingga Jumat sore, 20 Maret 2026.

Seorang perempuan bernama Suimih (35) berakhir tragis dan dipotong-potong 7 bagian. Dimutilasi dua pelaku beringas, Wahyu (53) dan Rusmini (56).

Tak ada yang menyangka, perempuan yang dikenal dekat dengan lingkungannya itu, harus meregang nyawa dengan cara yang begitu mengenaskan.

Lebih memilukan lagi, orang-orang yang paling dekat dengan Suimih, justru jadi aktor utama yang mengakhiri hidup Suimih.

Kisah ini pilu sekali. Amat sulit dibayangkan. Sangat mengerikan. Di luar nalar. Kalau Anda sanggup membacanya, silakan.

Mulanya

Sejak Januari 2026, rencana pembunuhan ini diakui Rusmini telah disusun dengan sempurna. Perlahan, dingin, dan terencana begitu matang.

Bahkan rencana pembuangan mayat Suimih sudah ditentukan lokasinya. Masih di kawasan Kota Samarinda.

Entah apa yang terjadi dalam rentang waktu hampir 2 bulan, niat kotor Rusmini dan Wahyu tersebut masih belum dilakukan.

Tepat pada Rabu tanggal 18 Maret 2026, Rusmini mendapat kabar bahwa Suimih berniat balik kampung. Mudik ke Pulau Jawa. Hendak menjenguk keluarganya.

Tak menahan niatnya yang sempurna, Rusmini meminta Wahyu agar Suimih segera dieksekusi. Mereka pun menyusun ulang rencana eksekusi tersebut.

Rencana mulai dijalankan. Sebelum Suimih mudik, tepat di malam Jumat tanggal 19 Maret 2026, adalah waktu yang mengubah segalanya bagi Suimih.

Suimih diajak menginap di rumah Rusmini. Ajakan tersebut diterima tanpa rasa curiga. Lantaran kedekatan Suimih dan Rusmini sudah terjalin lama. Mereka sangat akrab. Laksana ibu dan anak.

Keduanya berada dalam lingkaran kegiatan yang sama, sebuah kelompok peribadatan, yang baru saja membagi-bagi berkah kepada orang membutuhkan.

Usai membagi berkah, Rusmini mengajak Suimih tidur di kediaman Rusmini. Tepat di Jalan Anggur Gang Salon Noni, RT 055, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu.

Wahyu, pelaku laki-laki, juga sempat bertemu di kawasan Lembuswana. Mungkin ingin memastikan apakah keduanya balik ke rumah.

Tibalah mereka di rumah Rusmini. Rumah yang sederhana. Tanpa ada tanda-tanda yang mengarah pada tindakan beringas.

Malam itu, sampai sekitar pukul 23:00 WITA, berjalan sama seperti biasa. Normal. Hingga dini hari datang membawa takdir yang berbeda.

Sekitar pukul 02.30 WITA Jumat 20 Maret 2026, saat sebagian besar kota terlelap, kekerasan itu dimulai.

Dalam kondisi tertidur, Suimih dipukul pakai balok oleh Wahyu. Suimih terbangun kaget, menangis, mencoba menyelamatkan diri.

Dalam kepanikan, ia sempat meminta pertolongan langsung kepada Rusmini. Tapi Rusmini mendorong Sumih keluar kamar.

Dan Wahyu, yang belakangan diketahui adalah suami siri Suimih, tetap melakukan aksinya.

Pukulan demi pukulan mendarat tanpa ampun. Dada, wajah, hingga leher menjadi sasaran Wahyu. Niat membunuh semakin ganas.

Tangisan lembut Suimih yang memecah heningnya malam itu pun perlahan-lahan terhenti. Berganti sunyi yang abadi.

Proses Pemotongan

Pagi buta pun datang. Tak membawa harapan. Tapi tragedi. Di dalam rumah itu, sekitar pukul 06:00 WITA, tubuh Suimih tak lagi punya nyawa. Yang tersisa hanyalah keputusan-keputusan dingin berikutnya.

Pelaku sempat beristirahat dalam rentang hampir setengah hari. Wahyu tertidur lebih dulu.

Sementara Rusmini berusaha menghilangkan darah yang berceceran akibat pukulan balok yang keras kepada Suimih.

Rusmini pun harus beristirahat pula. Setelah kedua pelaku terbangun, sekitar pukul 16:00 WITA sore, saat gema takbir Lebaran Muhammadiyah masih berkumandang, tubuh Suimih dipotong-potong menjadi tujuh bagian.

Alat bukti

Alat bukti pembunuhan dan mutilasi di Samarinda (dok: istimewa)

Wahyu mengaku memotong tubuh korban dengan menggunakan mandau. Diawali pemotongan kaki. Kemudian paha. Lalu bagian tangan.

Tubuh korban diberi alas berupa papan. Sementara mandau dibantu dengan satu palu.

Proses pemotongan berlangsung cukup lama. Di mana Rusmini secara jeli menyaksikan pemotongan itu.

Wahyu sempat mengaku tak mau melakukan tindakan sadis tersebut. Tapi diperintah langsung oleh Rusmini.

Alasan mereka memotong Suimih, ingin menghapus jejak dan menghilangkan keberadaan Suimih. Agar bisa dibuang tanpa jejak.

Setelah aksi mutilasi itu selesai, Rusmini menawarkan agar bagian tubuh dimasukkan ke dalam karung. Ada 3 karung yang telah disediakan.

Dibuang

Potongan tubuh itu kemudian dibawa menuju kawasan Gunung Pelandu, kawasan Samarinda Utara, pada pukul pukul 19:00 WITA.

Dalam gelap malam, dua orang itu berupaya menghilangkan bukti. Mereka memilih jalan berbeda. Menghindari perhatian. Berharap kisah ini terkubur selamanya.

Wahyu membawa dua karung berisi potongan tubuh Suimih. Tepat pada pukul 19:00 WITA. Rusmini telah menunjukkan lokasi pembuangan mayat tersebut. Di lokasi yang sepi.

Aksi kedua, pada Sabtu 21 Maret 2026 sekitar pukul 01:00 WITA, keduanya mengambil satu karung yang berisi tubuh korban, lalu dibawa ke lokasi pembuangan yang sama.

Namun, kebenaran punya jalannya sendiri. Di Hari Lebaran NU, saat banyak orang merayakan kemenangan dan kebersamaan, tiga warga justru menemukan potongan tubuh yang tercecer. Ditemukan di rerumputan.

Sebuah pemandangan yang mengubah hari bahagia menjadi duka mendalam. Menggemparkan warga setempat.

Mereka berkerumun. Menyaksikan potongan tubuh yang dikerumuni lalat. Mereka mengabadikan peristiwa itu. Mengambil video.

Di waktu kejadian, ada warga yang menelepon ke meja redaksi, dan mengirimkan video tersebut. Betul-betul mengerikan.

Tak berlangsung lama. Laporan pun dibuat. Polisi bergerak. Dan perlahan, kisah Suimih yang sempat ingin dihapus, kembali disusun menjadi utuh. Meski dengan luka yang tak akan pernah sembuh.

Polisi Samarinda harus diakui bergerak cepat. Tak cukup sehari, langsung menemukan dua pelaku tersebut dan memintai keterangan pelaku.

Hilang Kemanusiaannya

Kini, Suimih telah tiada. Yang tersisa adalah duka bagi keluarga. Bagi warga. Dan bagi siapa pun yang mendengarkan kisahnya. Apalagi melihat potongan tubuhnya.

Kasus ini menggambarkan betapa rapuhnya hati manusia. Betapa emosi nyaris tak terkendali.

Dan tentu saja, tentang bagaimana manusia bisa kehilangan sisi kemanusiaannya. Di kala mereka tidak menggunakan nalarnya yang suci.

Di Kota Samarinda, kisah ini mungkin akan terus diingat. Sebagai tragedi yang mungkin saja dapat dialami oleh siapapun yang tak mampu menahan emosinya.

Alasan Mutilasi

Di balik tragedi berdarah ini, tersimpan bara emosi yang katanya lama terpendam. Rasa sakit hati menjadi benih yang tumbuh besar dalam diamnya Rusmini dan Wahyu.

Tuduhan demi tuduhan yang dilontarkan korban, disebut memicu amarah yang tak lagi dapat dibendung.

Setidaknya itu adalah klaim atau pengakuan yang dinyatakan oleh pelaku laki-laki, Wahyu alias Jakfar.

Dikabarkan pula, ada motif lain yang tak kalah getir: keinginan untuk menguasai apa yang dimiliki korban. Motor, handphone, dan barang berharga lainnya.

Harta benda, yang semestinya tak sebanding dengan nyawa, justru menjadi alasan tambahan di balik rencana keji ini. Semoga semua orang dapat terhindar dari peristiwa ini. (Agung)

Koran Katakaltim

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu I April 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu IV Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu III Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025

Edisi Minggu II Maret 2025