PENAJAM — Kualitas udara di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) belum menunjukkan perbaikan berarti. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang sebelumnya berada di angka 72 pada akhir Agustus, kini naik menjadi 80 pada Kamis (3/9/2026).
Angka tersebut masih berada dalam kategori sedang, namun kenaikan ISPU menjadi perhatian lantaran PPU merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan sejumlah kawasan yang mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Data KLH/BPLH menunjukkan PM2,5 menjadi parameter yang paling dominan dalam indeks kualitas udara PPU.
Sementara PM10 berada pada kategori sedang, sedangkan sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO) masih tercatat dalam kategori baik.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan utama kualitas udara PPU saat ini bukan berasal dari seluruh parameter pencemar secara bersamaan, melainkan terutama konsentrasi partikulat halus yang mudah terbawa dan menyebar melalui udara.
Bupati PPU, Mudyat Noor menyebut asap yang memengaruhi wilayahnya lebih banyak merupakan asap kiriman dari Kabupaten Paser.
Ia menilai karhutla yang terjadi di PPU relatif cepat ditangani sehingga tidak sampai menimbulkan paparan asap dalam waktu panjang.
Menurut Mudyat, dalam sehari kebakaran di PPU bisa muncul di beberapa titik. Namun, penanganan dilakukan dengan cepat oleh tim gabungan.
“Kebakaran di Penajam (PPU) penanganannya cepat banget dan tidak pernah berlarut-larut melebihi satu hari. Asap ini merupakan imbas embusan dari wilayah Paser yang kemarin mengalami kebakaran cukup hebat,” kata Mudyat, Kamis (3/9).
Dampak asap terlihat dari jarak pandang di sejumlah kawasan pesisir PPU. Pada waktu tertentu, pandangan ke arah Balikpapan bahkan disebut tertutup kabut asap cukup tebal.
Pemerintah daerah kemudian mendorong upaya Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk membantu mempercepat turunnya hujan.
Namun, langkah tersebut tidak sepenuhnya dapat menentukan lokasi turunnya hujan karena sangat bergantung pada dinamika atmosfer.
Mudyat mengatakan rekayasa cuaca sebelumnya telah dilakukan. Akan tetapi, angin kencang membuat awan yang menjadi sasaran bergerak ke arah lain.
“Kemarin sudah dilakukan rekayasa cuaca, tetapi karena angin cukup deras, awan hujan bergeser dan justru turun hujan di Kubar (Kutai Barat),” ujarnya.
Hujan rintik sempat turun di sejumlah wilayah PPU, termasuk Lawe-Lawe dan Petung. Namun, curah hujan tersebut belum cukup untuk menjadi penanda bahwa kondisi udara telah sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, kondisi angin dan gelombang tinggi menjadi faktor yang membuat upaya modifikasi cuaca tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan teknologi.
Pergerakan massa udara tetap menjadi faktor penting dalam menentukan sebaran asap maupun keberhasilan pembentukan hujan.
Mudyat mengakui TMC masih diperlukan, tetapi pelaksanaannya harus memperhitungkan kondisi cuaca secara lebih matang.
“Rekayasa cuaca sebetulnya tetap perlu, tetapi kita harus melihat kondisi anginnya. Bagaimanapun dilakukan rekayasa hujan, kalau faktor cuaca dan angin tidak mendukung, tentu jadi tantangan tersendiri bagi kawan-kawan di lapangan,” pungkasnya.
Kenaikan ISPU menjadi 80 sekaligus menunjukkan bahwa persoalan asap di PPU tidak cukup hanya dilihat dari titik api yang berada di dalam wilayah kabupaten.
Pergerakan angin dan sumber kebakaran dari wilayah sekitar juga menjadi faktor yang perlu diantisipasi pemerintah, terutama selama karhutla masih terjadi di kawasan Kalimantan Timur. (Adv)














