KATAKALTIM — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan keinginannya untuk ikut terlibat dalam proses penentuan pemimpin tertinggi Iran setelah wafatnya Ali Khamenei.
Trump secara tegas menyampaikan penolakannya apabila Pemimpin Tertinggi Iran diberikan kepada putra Ali Khamenei, yakni Mojtaba Khamenei.
Menurut Trump, Mojtaba Khamenei memang kerap disebut sebagai kandidat kuat yang berpotensi menggantikan posisi ayahnya. Meski demikian, ia menilai sosok tersebut tidak layak jadi Pemimpin Tertinggi Iran di masa mendatang.
“Mereka membuang-buang waktu. Putra Khamenei adalah orang yang tidak berpengaruh. Saya harus terlibat dalam penunjukan tersebut, seperti dengan Delcy (Rodriguez) di Venezuela,” kata Trump pada Kamis seperti dikutip Axios.
Trump juga menegaskan bahwa dirinya tidak menginginkan Pemimpin Tertinggi Iran yang akan melanjutkan kebijakan keras yang selama ini dijalankan oleh Ali Khamenei.
Ia bahkan mengingatkan bahwa apabila sosok dengan garis kebijakan serupa tetap dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran, maka konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi kembali terjadi dalam beberapa tahun ke depan.
“Putra Khamenei tidak dapat diterima oleh saya. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian ke Iran,” ujar Trump.
Mojtaba Khamenei yang kini berusia 56 tahun selama ini disebut-sebut sebagai salah satu figur paling berpeluang untuk menduduki posisi pemimpin tertinggi Iran.
Namun hingga saat ini, otoritas Iran belum mengumumkan secara resmi siapa yang akan menggantikan posisi tersebut.
Sebelumnya, Ali Khamenei dilaporkan syahid dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menyasar Teheran pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran dan memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Setelah serangan itu terjadi, Iran melancarkan aksi balasan dengan menembakkan rudal ke berbagai fasilitas militer dan diplomatik milik Amerika Serikat di sejumlah negara Timur Tengah. Israel juga menjadi salah satu target dalam rangkaian serangan tersebut.
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, pada Rabu (4/3/2026) menyatakan bahwa serangan udara balasan yang dilakukan Iran telah menewaskan lebih dari 500 tentara Amerika Serikat.
Di sisi lain, pihak Amerika Serikat hingga kini melaporkan terdapat enam personel militernya yang tewas akibat serangan Iran tersebut. (Ali)












