Payload Logo
Pencemaran lingkungan

Sampel air yang diduga dicemari limbah, diambil di perairan Kota Bontang, di kawasan Tihi-Tihi (dok: Agu/katakaltim)

Limbah Diduga Merusak Mata Pencarian Nelayan Tihi-tihi, DLH Bontang Mau Rapat Dulu

Penulis: Agung | Editor:
16 September 2026

BONTANG — Nelayan asal Tihi-tihi, Kota Bontang, melaporkan hasil panen rumput lautnya terganggu akibat limbah yang diduga mencemari area tersebut.

Pencemaran lingkungan yang diduga limbah minyak CPO itu dilaporkan telah terjadi beberapa kali.

Nelayan Tihi-tihi

Nelayan Tihi-tihi, Kota Bontang, di akhir tahun 2025 lalu saat meninjau rumput lautnya yang diduga tercemari oleh limbah (dok: warga)

Bahkan, tahun 2025 lalu sebagian nelayan mengaku hasil panen mereka sangat sedikit. Dan diduga biang keroknya itu sama, adalah limbah.

“Ini sudah berulang. Dan sudah beberapa bulan kita menderita karena masalah ini,” ucap Mustari, warga asal Tihi-Tihi saat melaporkan kejadian ini kepada katakaltim, Minggu 13 September 2026.

Ia mengaku nelayan sangat dirugikan akibat peristiwa ini. Sebab limbah tersebut bisa langsung membuat rumput laut tidak tumbuh.

“Jelas merugikan kita ini. Karena bisa mematikan rumput sehingga kita mulai lagi dari nol untuk mencari bibit,” tandasnya.

Ia mengungkapkan kekesalannya akibat peristiwa ini. Sebab, selain masalah penyakit alami di rumput laut, ada lagi limbah yang datang menambah gagalnya panen.

“Belum penyakit rumput, ada lagi limbah,” sesalnya.

Mustari pun membeberkan kerugian yang dialaminya tidak sedikit. Ia merinci, pihaknya melepaskan bibit sebanyak 45 bentang.

Panjang per 1 bentangan sekitar 130 meter dan biaya upah tenaga serta bibitnya sekitar Rp270 ribu.

Jika dikalikan dengan 45 bentang, itu berarti kerugian yang dialami sekitar Rp12 juta.

“Saya saja lepas bibit itu 45 bentang, biaya upah tenaga dan bibit berkisar 270.000 per bentang,” terangnya.

Itu belum keseluruhan. Mustari bilang ada 5 lokasi yang terdampak. Namun yang paling parah adalah milik kawannya.

“Yang paling parah itu punya kawan yang posisinya di tengah. Di situ kami ambil sampel,” tuturnya.

Ia berharap pihak terkait segera menyelesaikan masalah ini. Jangan sampai, para nelayan selalu dirugikan dengan masalah yang berulang.

“Semoga ini bisa ditangani cepat. Kalau masalah berulang-ulang begini, kita yang rugi. Kasihan nelayan,” tandasnya.

Tanggapan DLH Bontang

Terhadap laporan ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bontang, menyampaikan akan menindaklanjutinya.

“Akan kita tindak lanjuti,” ucap Kepala DLH Bontang, Heru, Selasa 15 September 2026.

Dia bilang akan menggelar rapat dulu bersama Dinas Perikanan Bontang. Sebab bagaimana pun ini juga berkaitan dengan biota laut.

“Kalau biota itu ke (Dinas) Perikanan. Kalau yang lainnya, seperti air (baru di DLH). Kita tindak lanjuti lah. Kita rapatkan dulu,” tukasnya. (Agu)

Dilihat 704 kali