KUBAR — Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Adrianus, mendorong pemerintah daerah untuk membangun jalan alternatif menuju ibu kota Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Samarinda.
Jalan alternatif Melak (Kubar)-Kota Bangun (Kukar) dinilai dapat memangkas jarak tempuh hingga 100 km menuju Samarinda. Jalur ini lebih dekat ketimbang melalui jalan nasional.
"Jika menggunakan jalan nasional, jarak tempuh menuju Samarinda mencapai 247 kilometer. Sedangkan melalui jalur alternatif hanya 146 kilometer. Artinya 100 kilometer terpangkas," terang Adrianus kepada katakaltim di Sendawar, 3 Februari 2026.
Akses jalan Seberang Mahakam ini terletak di Kecamatan Mook Manaar Bulant memiliki panjang 42 kilometer. Sebagian ruas jalan masih berstatus milik perusahaan Hutan Tanam Industri (HTI).
"Jalan alternatif ini sudah banyak digunakan masyarakat Kubar, meski masih menggunakan jalur HTI. Jalan ini dipilih masyarakat, karena mampu memangkas jarak tempuh yang sangat signifikan," ungkapnya.
Dijelaskannya, terkait wacana pembangunan jalan alternatif, Komisi II DPRD Kubar telah melakukan kunjungan kerja ke Dinas PUPR Kukar. Saat ini, pembangunan jalan administrasi di wilayah Kukar terus berjalan.
"Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas PUPR Kukar, artinya Kubar membangun jalan hingga perbatasan Kukar dan Kubar begitu sebaliknya. Jadi kita nanti punya jalan kabupaten menuju ibu kota Samarinda," ungkapnya.
Kata Adrianus, pada TA 2026, Pemkab Kubar telah menganggarkan pembangunan infrastruktur jalan Seberang Mahakam menuju Abit.
Wacana pembangunan jalan alternatif ini juga direspons positif oleh Pemprov Kaltim.
"Pembangunan jalan alternatif ini mengharuskan pembukaan jalan baru. Pemprov Kaltim juga tengah melakukan kajian atau studi kelayakan untuk beberapa titik jalan yang direncanakan untuk dibuka," urainya.
Ia berharap DPRD Provinsi Kaltim dapat memberikan dukungan agar jalan alternatif dapat terealisasi.
Pemprov Kaltim juga diharapkan segera menyelesaikan studi kelayakan, termasuk kepastian anggaran untuk pembangunan fisik jalan.
Dengan terbangunnya jalan alternatif, jarak tempuh ke ibu kota dapat terpangkas.
Dampaknya, biaya operasional distribusi barang menjadi lebih efisien. Sehingga harga bahan pokok otomatis lebih terjangkau. (Jantro)














