KUTIM — Tren penurunan persentase penduduk miskin di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bergerak sejak beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data yang diterima dari Layanan Statisik Terpadu Badan Pusat Statistik (BPS) Kutim menunjukkan persentase penduduk miskin turun setiap tahunnya.
Utamanya pada tahun 2024 menuju 2025. BPS mencatat ada sekitar 2.200 rakyat yang keluar dari garis kemiskinan.
Artinya 2.200 orang tersebut rata-rata sudah mengeluarkan uang sebanyak Rp753.332 setiap bulan.
Faktor Penurunan
Pada 2024, jumlah penduduk miskin di Kutim mencapai 8,81 persen atau 37.110 jiwa. Sementara 2025 turun jadi 8,07 persen atau 34.910 jiwa.
Artinya penurunan kemiskinan di Kutim periode tersebut sekitar 0,74 persen.
Pihak BPS Kutim mengatakan faktor penurunan karena jumlah penduduk Kutim makin hari makin meningkat. Ditambah lagi adanya bantuan dari pemerintah seperti bantuan sosial (bansos).
Dan juga di 2025 lebih banyak penduduk yang berhasil menaikkan pengeluaran per kapitanya di atas garis kemiskinan: Rp753.332
"Keberhasilan penduduk keluar dari kemiskinan karena mereka mampu memperbaiki daya belinya. Baik itu karena dari mereka sendiri ataupun dari faktor luar seperti bansos atau lainnya," tulis BPS Kutim dalam keterangannya kepada Katakaltim, Selasa 6 Januari 2026.
BPS menjelaskan, fenomena yang mendukung data kemiskinan yang sudah dirilis oleh BPS antara lain diskon tarif listrik PLN pada awal tahun 2025.
Kemudian pencairan bansos seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BNPT) dan yang lainnya.
Lalu ada program pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah daerah (Pemda). Dan pasti ada faktor lain yang tidak dapat ditangkap oleh survei yang dilakukan oleh BPS.
"BPS melekukan SUSENAS ini di bulan Maret, sehingga biasanya pemerintah banyak realisasi bansos diupayakan di awal tahun (Januari-Maret)," terangnya.
Diberitakan sebelumnya, Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) untuk penduduk miskin umumnya dilakukan pada Maret. Katanya akan dipercepat.
BPS Kutim mengonfirmasi bahwa pihaknya di Kutim bakal mempercepat survei tersebut.
Percepatan survei untuk menghindari pola konsumen yang tidak normal. Utamanya di bulan Puasa dan Hari Raya.
"Karena dalam pengumpulan data di SUSENAS ini kami mengumpulkan data pengeluaran penduduk yang se-ideal mungkin di kondisi yang normal," ucap Bagian Unit Pelayanan Statistik Terpadu BPS Kutim, Ari saat ditemui katakaltim, Senin 5 Januari 2026.
Saat ini pihaknya sudah menyiapkan puluhan petugas survei. Dalam waktu dekat mereka akan dilatih. “Minggu ini mereka dilatih. Petugas survei ini mitra. Bukan petugas kami. Dan mereka tersebar di berbagai kecamatan," jelasnya.
Jumlah petugas yang dibutuhkan tidak menentu. Sekitar 60-100. Mengikuti jumlah blok sampel yang disurvei.
Jumlah Penduduk Miskin
Data terbaru ihwal penduduk miskin di Kutim per Maret 2025 mencapai 8,07 persen. Setara dengan 34.910 jiwa.
Mereka semua hidup di bawah garis kemiskinan. Pengeluarannya sebesar Rp753.332 per kapita tiap bulan.
Artinya, setiap individu yang tidak mencapai pengeluaran Rp753.332 per bulan adalah tergolong warga miskin.
"Jadi asumsinya ketika satu rumah tangga itu tergolong miskin, ya seluruh anggota rumah tangganya juga miskin. Termasuk anak sejak usia 0 dalam keluarga tersebut," jelas Ari.
Contohnya dalam satu rumah tangga terdiri dari 4 orang, maka pengeluaran rumah tangga tersebut harus Rp3.013.328. “Jika kurang dari 3 juta pengeluaran keluarga itu, (maka) tergolong miskin," pungkasnya. (Caca)








