KALTIM — Warga Kaltim mengeluh. Mereka mengkritik terlambatnya distribusi seragam sekolah serta perlengkapan belajar.
Merespons keluhan tersebut, Plt Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim, Armin, mengaku tak ada keterlambatan administratif.
Semua proses pengadaan, produksi, hingga distribusi berjalan secara simultan dan tepat waktu, sesuai klausul kontrak kerja yang disepakati.
"Kami sangat memahami bahwa seragam ini merupakan kebutuhan penting bagi para siswa untuk memulai tahun ajaran baru dengan lancar,” ucap Armin dalam keterangannya baru-baru ini.
Penyebab keterlambatan karena adanya tantangan teknis dan operasional. Saat ini, Disdikbud Kaltim dan seluruh mitra kerja telah melakukan berbagai upaya mempercepat penyaluran.
"Kami berkomitmen menjaga transparansi dalam setiap tahapan proses yang sedang berjalan,” tandasnya.
Beberapa masalah teknis dan operasional yang sedang dihadapi Disdikbud adalah data siswa baru yang bersifat fluktuatif, serta kendala sinkronisasi data ukuran baju siswa.
Faktanya, kata dia, banyak siswa baru yang berpindah sekolah, mencabut berkas, atau baru mendaftar di sekolah swasta setelah tidak diterima di negeri.
Sehingga, data jumlah siswa dan ukuran baju tiap sekolah berubah-ubah. Akibatnya pihak produsen belum bisa memproduksi secara massal.
Ketika produsen memaksa memproduksi, sedangkan data pihak sekolah belum final, maka berpotensi menciptakan kondisi surplus ataupun defisit ukuran.
"Tentu ini memicu pemborosan anggaran,” bebernya.
Masalah kedua, Disdikbud mengaku adanya kesalahan penginputan dari pihak sekolah tentang ukuran seragam siswa.
Sehingga produsen terpaksa menginput ulang untuk mencegah kesalahan ukuran seragam.
"Agar seragam tidak kekecilan ataupun kebesaran bagi setiap siswa,“ tegasnya.
Solusinya Apa?
Menangani masalah di lapangan, saat ini Disdikbud Kaltim melakukan berbagai langkah untuk mempercepat penyaluran.
Antara lain, pertama, produksi kini dilakukan secara klaster. Sekolah yang datanya sudah 100 persen final dan valid, langsung didahului proses produksinya tanpa menunggu sekolah lain selesai.
Kedua, saat ini Disdikbud tak lagi menunggu seluruh seragam sekolah selesai untuk pengecekan dan penyaluran kepada sekolah.
Namun, setiap seragam yang selesai dibuat langsung dicek mutunya, kemudian disalurkan ke sekolah.
"Langsung didistribusikan per wilayah atau per sekolah secara bertahap mulai minggu ketiga Bulan Agustus,” terangnya.
Ketiga, Disdikbud juga telah koordinasi dengan kepala sekolah untuk memberi dispensasi kepada seluruh siswa agar tetap boleh ikuti pelajaran dengan pakaian bebas.
"Pakaian bebas pantas atau seragam sekolah sebelumnya sampai seragam baru diterima," tukasnya.
Ihwal keterlambatan data, kata dia, hal itu terjadi lantaran upaya mendahulukan asas inklusivitas, penundaan penguncian data.
"Demi memberikan ruang bagi anak-anak rentan miskin, anak putus sekolah, dan anak yang tidak lolos seleksi awal agar tetap bisa bersekolah (baik di negeri maupun swasta),” terangnya.
Sedangkan, ketika penguncian data terlalu cepat, akan mengakibatkan siswa susulan tak dapat seragam gratis.
Katanya, penyelesaian distribusi seragam sekolah seluruhnya ditarget rampung akhir Oktober.
"Kami akan terus memberikan pembaruan berkala mengenai status pengiriman kepada pihak sekolah,” pungkasnya. (Wira)













