Payload Logo
Yuliana Wetuq penerima penghargaan Berjasa Bidang Lingkungan Hidup oleh Pemprov Kaltim

Yuliana Wetuq bersama Wagub Seno Aji dalam penyerahan penghargaan Berjasa Bidang Lingkungan Hidup oleh Pemprov Kaltim dalam Rangka HUT ke-69 Kaltim (dok:YulianaWetuq)

Yuliana Wetuq Raih Penghargaan Tokoh Berjasa dalam Lingkungan Hidup Kaltim

Penulis: Salsabila Resa | Editor: Agu
12 Januari 2026

KUTIM — Aktivis Lingkungan yang sudah puluhan tahun menjaga Hutan Lindung Wehea di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menerima penghargaan.

Yuliana Wetuq, perempuan yang di mata Pemerintah Provinsi Kaltim telah berjasa di Bidang Lingkungan Hidup.

Ia menerima penghargaan dalam Rangka Peringatan HUT ke 69 Provinsi Kaltim Jumat lalu di Kota Samarinda.

Yuliana Wetuq sendiri merupakan perempuan yang secara sukarela menjaga Hutan Lindung Wahea selama 17 tahun.

Penghargaan silih berganti dia peroleh. Mulai dari tingkat kabupaten, hingga nasional.

Dukungan Pemkab Kutim

Mewakili Pemerintah Kutim, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kutim turut menyampaikan rasa bangganya terhadap perempuan asal Tuah Bumi Untung Benua itu.

"Kami melihat Yuliana sebagai tokoh perempuan yang mampu menginspirasi perempuan-perempuan lainnya," kata Kepala DPPPA Idham Cholid dalam keterangan resminya, Jumat 9 Januari 2026.

Kata Idham, ini membuktikan perempuan punya peran penting. Tidak hanya laki-laki. Namun semua lapisan masyarakat.

“Baik perempuan maupun laki-laki, harus terus didorong berperan aktif dalam pembangunan di Kabupaten Kutim,” tuturnya.

Jaga Hutan!

Sementara itu, Yuliana Wetuq mengaku dirinya cukup senang dengan penghargaan tersebut.

Tapi ada hal yang lebih penting dari coretan di atas kertas itu: perhatian pemerintah terhadap hutan.

Kata dia, hutan, utamanya di Kalimantan dan Kutai Timur, tengah mengalami kondisi sangat kritis.

"Jadi bukan penghargaan yang saya perlukan. Tapi perhatian ke pengelolaan hutan," ucapnya saat dihubungi Katakaltim, Sabtu 10 Januari 2026.

Selama puluhan tahun pihaknya sudah mengamankan hutan dengan suka rela.

Namun minimnya perhatian pemerintah dan pihak perusahaan yang berada di sekitar hutan, membuat mereka juga kesulitan.

Bahkan mereka tak mampu menambah personel hanya untuk penjaga hutan.

"Tidak banyak yang mau menjaga hutan. Tidak ada keuntungan material yang kita peroleh. Tapi ini tetap kita lakukan. Karena hutan lindung Wehea menjadi garda terdepan dan penghasil oksigen terbesar di Kalimantan Timur," ucapnya.

Maka harus ada dukungan sebanyak-banyaknya dari semua pihak.

Dia mau pemerintah daerah sadar, bahwa hutan sangat dibutuhkan oleh masyarakat hari ini dan di masa mendatang.

"Harapan saya supaya pemerintah baik bupati, gubernur lebih memperhatikan Hutan Lindung Wehea, dalam infrastruktur aksesbilitas, fasilitas kendaraan roda dua dan empat serta bantuan operasional hutan," terangnya.

Lebih jauh Yulie juga berharap agar perusahaan di sekitar hutan juga mengambil peran dalam melestarikan.

"Masing masing perusahaan (di sekitat wilayah hutan) kasih 200 juta untuk perbaikan jalan dan jembatan itu ndak bangkrut kok mereka, sementara hasil yang di ambil di wilayah kami lebih dari itu," geramnya.

Karena, kata Julie, Hutan Lindung Wehea masih eksis hingga hari ini berkat dukungan Masyarakat Adat Wehea dan Tim Petkuq Mehuey (nama penjaga Hutan Wehea). (Salsabila)

Pilihan Editor: Rakyat Adat Bergantung pada Hutan