PENAJAM — Kehadiran CT Scan 64 Slice di RSUD Ratu Aji Putri Botung (RAPB) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mulai membuka peluang pemeriksaan diagnostik yang sebelumnya harus dilakukan di luar daerah.
Namun, pemanfaatan alat tersebut untuk pelayanan masyarakat secara penuh masih menunggu penyelesaian administrasi dengan BPJS Kesehatan. Padahal, alat telah diresmikan dan menjalani uji coba.
Direktur RSUD RAPB PPU, dr. Lukasiwan Eddy Saputro, mengatakan kelengkapan administrasi BPJS menjadi tahap yang kini tengah diselesaikan rumah sakit.
Hal itu penting mengingat sebagian besar pasien RSUD RAPB merupakan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Layanan CT Scan sudah diresmikan dan dilakukan uji coba pada minggu lalu. Untuk mengoperasikan secara penuh terhadap masyarakat, perlu dilengkapi izin administrasi dari BPJS Kesehatan. Izin administrasi tersebut sudah kami ajukan ke BPJS Kesehatan,” kata Lukas, Senin (7/9/2026).
Selain administrasi BPJS, pengoperasian CT Scan juga membutuhkan izin dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).
Menurut Lukas, perangkat CT Scan 64 Slice tersebut merupakan salah satu dukungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk meningkatkan fasilitas layanan kesehatan di PPU.
Alat itu diterima RSUD RAPB pada Juli 2026 bersama perangkat Cathlab untuk pelayanan penyakit jantung.
“Juli lalu sudah kami terima dua unit alat kesehatan dari Kemenkes yakni CT Scan dan Catheterization Laboratory (Cathlab) untuk layanan penyakit jantung,” ujarnya.
Selama ini, keterbatasan fasilitas CT Scan membuat pasien dengan indikasi stroke harus menjalani pemeriksaan diagnostik di rumah sakit luar PPU, terutama di Balikpapan.
Kondisi tersebut membuat proses penanganan pasien menjadi lebih panjang. Pemeriksaan menggunakan CT Scan diperlukan terlebih dahulu untuk memastikan diagnosis sebelum tindakan medis dilakukan.
“Pasien yang terindikasi stroke selama ini dirujuk ke luar daerah hanya untuk pemeriksaan CT Scan. Setelah itu, pasien kembali ke RSUD RAPB untuk dilakukan penanganan. Karena, sebelum dilakukan penanganan pasien stroke terlebih dahulu harus ada diagnosisnya,” jelas Lukas.
Dengan tersedianya CT Scan di RSUD RAPB, kebutuhan pemeriksaan diagnostik di luar daerah diharapkan dapat ditekan setelah seluruh persyaratan pelayanan terpenuhi.
Dari sisi sumber daya manusia, rumah sakit juga telah menyiapkan personel untuk mendukung pengoperasian alat tersebut.
Tenaga yang disiapkan mencakup dokter spesialis radiologi, radiografer, serta teknisi khusus dari Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPRS).
“SDM-nya sudah siap, saat ini kami tinggal menunggu kelengkapan izin administrasi dari BPJS Kesehatan. Setelah administrasinya lengkap, alat CT Scan ini baru kita buka untuk layanan umum,” pungkasnya. (Adv)














