PENAJAM – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus memperkuat koordinasi dengan Lembaga Adat Paser (LAP) untuk menyukseskan Festival Belian Adat Nondoi 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 9–12 November 2026.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya menjaga kelestarian tradisi masyarakat Paser, tetapi juga mendorong perkembangan seni budaya dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Sekretaris Disbudpar PPU, Suparman, mengatakan koordinasi dengan LAP terus dilakukan untuk mematangkan persiapan festival yang dipusatkan di Rumah Adat Kuta Rekan Tatau tersebut.
“Kita koordinasi terus dengan teman-teman LAP. Kita bekerja bersama untuk menyukseskan kegiatan ini. Harapan kita, progresnya dari tahun ke tahun akan meningkat,” ujar Suparman, Selasa (27/10/2026).
Menurut dia, penyelenggaraan Festival Nondoi harus menunjukkan perkembangan setiap tahunnya.
Peningkatan tersebut dapat dilihat dari sisi pelestarian kebudayaan maupun manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.
“Harus ada progres, baik dari segi ekonomi maupun perkembangan kebudayaan. Untuk apa kita mengadakan kegiatan kalau hanya berjalan di tempat?” katanya.
Suparman mengakui, anggaran Festival Nondoi 2026 masih terbatas dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Namun, keterbatasan tersebut diharapkan tidak menghambat upaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan festival.
Pada tahun ini, anggaran kegiatan bertambah Rp100 juta dari sebelumnya Rp200 juta menjadi Rp300 juta melalui APBD Perubahan 2026.
Dengan penyesuaian tersebut, festival direncanakan berlangsung selama empat hari empat malam.
Selain ritual Belian sebagai kegiatan utama, festival juga akan diisi pertunjukan seni dan budaya dari berbagai kecamatan di PPU.
Setiap kecamatan diharapkan memperoleh kesempatan untuk menampilkan potensi kesenian masing-masing, termasuk melibatkan pelajar sesuai koordinasi di wilayahnya.
Disbudpar PPU juga merencanakan keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mendukung kegiatan sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat.
Suparman berharap perpaduan ritual adat, pertunjukan seni, dan kegiatan pendukung dapat memperkuat daya tarik Festival Nondoi sebagai agenda wisata budaya di PPU.
Suparman turut menyinggung bentuk kolaborasi antara pemerintah daerah dan LAP dalam mendukung pengembangan kebudayaan di PPU.
Salah satu contohnya adalah pemberian penghargaan kepada LAP pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia.
Penghargaan tersebut berkaitan dengan inisiatif LAP dalam mengusulkan penamaan gedung-gedung pemerintahan di PPU.
“Pada saat HUT RI kemarin, Pak Bupati menyerahkan penghargaan kepada LAP atas inisiasi mereka. Gedung-gedung pemerintahan yang ada di PPU ini sudah ada namanya,” jelasnya.
Ia mengatakan, usulan tersebut berasal dari LAP untuk kemudian dibahas oleh pemerintah daerah.
Menurut dia, hal itu menjadi salah satu contoh kerja sama antara lembaga adat dan pemerintah dalam mendukung identitas serta kebudayaan daerah.
“Usulan itu dari LAP, kemudian pemerintah daerah menggodoknya. Seperti itu kerja sama dengan LAP,” tambahnya.
Sementara itu, terkait kemungkinan pemberian gelar adat kepada Bupati PPU, Mudyat Noor, Suparman belum memastikan adanya keputusan atau rencana resmi mengenai hal tersebut.
Ia menegaskan bahwa hubungan pemerintah daerah dengan lembaga adat perlu terus dijaga melalui komunikasi dan kolaborasi dalam berbagai kegiatan kebudayaan.
Melalui Festival Belian Adat Nondoi 2026, Disbudpar PPU berharap pelestarian tradisi masyarakat Paser dapat berjalan beriringan dengan pengembangan seni budaya, peningkatan daya tarik wisata, serta pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat. (Adv)














