PENAJAM – Festival Belian Adat Nondoi 2026 di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dijadwalkan berlangsung selama empat hari empat malam pada November 2026.
Persiapan kegiatan yang dipusatkan di Rumah Adat Kuta Rekan Tatau tersebut kini mulai dimatangkan.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU, Suparman, mengatakan pelaksanaan Festival Nondoi tahun ini mengalami penyesuaian jadwal dari rencana awal pada Oktober menjadi November 2026.
Penyesuaian tersebut dilakukan seiring dengan perubahan alokasi anggaran melalui APBD Perubahan 2026.
Anggaran kegiatan yang sebelumnya sebesar Rp200 juta bertambah Rp100 juta sehingga totalnya menjadi Rp300 juta.
“Ini sudah persiapan. Insyaallah, pelaksanaannya nanti pada November,” ujar Suparman, Senin (26/10/2026).
Dengan tambahan anggaran tersebut, durasi kegiatan direncanakan menjadi empat hari empat malam, lebih panjang dibandingkan pelaksanaan sebelumnya yang berlangsung selama tiga hari.
Festival Belian Adat Nondoi merupakan salah satu kegiatan budaya yang menonjolkan tradisi masyarakat Suku Paser.
Ritual Belian menjadi bagian utama dalam rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan tradisi penyucian wilayah dan penolakan bala.
Selain ritual adat, kegiatan juga direncanakan menghadirkan berbagai pertunjukan seni dan budaya dari kecamatan-kecamatan di PPU.
Suparman menyebutkan, pelibatan perwakilan dari setiap kecamatan menjadi salah satu hal yang ingin diwujudkan dalam pelaksanaan festival tahun ini.
Setiap kecamatan diharapkan memperoleh kesempatan untuk menampilkan potensi seni dan budaya yang dimiliki.
“Harapan kita memang setiap kecamatan itu menampilkan karya seni. Kita berikan ruang kepada kecamatan untuk mengeksplorasi budaya-budaya yang ada di wilayah masing-masing,” jelasnya.
Kegiatan tersebut juga direncanakan melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kehadiran UMKM diharapkan dapat menjadi bagian dari rangkaian festival sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Menurut Suparman, kegiatan budaya tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi, tetapi juga berpotensi menarik pengunjung dan memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Adapun rincian teknis mengenai pengisi acara, keterlibatan penampil dari luar daerah, serta mekanisme keikutsertaan UMKM masih akan dibahas lebih lanjut oleh bidang terkait di Disbudpar PPU. (Adv)














