KUKAR — Pesut Mahakam (Orcaella Brevirostris) Bernama Lion berusia lebih 30 tahun mati di perairan Kampung Baru, Liang, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Senin (5/5/2026).
Penghuni Sungai Mahakam
Kalimantan Timur tampaknya lebih ramah pada kapal-kapal tugboat dibanding pesut.
Sungai Mahakam kembali kehilangan satu penghuni setianya, ‘Lion’.
Hewan langka itu pertama kali ditemukan warga dalam kondisi mengapung di hilir Sungai Mahakam.
Laporan warga kemudian diteruskan ke tim konservasi hingga tim gabungan dari Yayasan Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), BPSPL Pontianak, Pokdarwis Desa Pela, hingga PDHI Samarinda.
Saat dievakuasi oleh tim, tubuh pesut sudah mulai mengalami fase pembusukan.
Tim langsung melakukan pengamanan bangkai, pemeriksaan tubuh, pengukuran, penimbangan, pembedahan (nekropsi), pengambilan sampel organ, hingga proses penguburan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, pesut tersebut memiliki panjang tubuh 2,35 meter dengan berat mencapai 152 kilogram.
Sebagian besar gigi pesut tersebut sudah aus, bahkan beberapa telah hilang.
Kondisi itu menjadi tanda bahwa Lion bukanlah pesut muda.
Lion Teridentifikasi Sejak 1999
Danielle Kreb, Peneliti Yayasan RASI, mengatakan Lion merupakan pesut yang telah lama teridentifikasi dalam penelitian pesut mahakam.
Lion diketahui telah masuk dalam studi foto identifikasi sejak tahun 1999.
“Dia sudah ada dari tahun 1999,” ucap Danielle, Kamis (7/5/2026).
Saat itu, kata Danielle, ukuran tubuh Lion diperkirakan sudah cukup besar.
Dari situ, tim menduga usia pesut jantan tersebut kini sudah lebih dari 30 tahun.
“Jadi dugaan kami mungkin pada saat itu sudah lumayan besar juga. Jadi di atas 30 tahun mungkin sudah usianya si Lion ini,” ujarnya.
Danielle menjelaskan, identitas Lion dikenali dari bentuk sirip punggung yang menjadi penanda khas setiap individu pesut Mahakam.
Awalnya, pesut itu sempat diberi nama Linda karena belum diketahui jenis kelaminnya.
Namun setelah identifikasi lebih lanjut dan diketahui berjenis kelamin jantan, namanya diubah menjadi Lion.
“Sirip punggung itu seperti tanda lahir. Jadi kita tahu itu siapa,” ujarnya.
Penyebab Kematian Lion
Meski telah dilakukan pemeriksaan awal, penyebab kematian Lion hingga kini masih belum bisa dipastikan.
Tim peneliti masih menunggu hasil uji laboratorium dari sejumlah sampel organ yang telah diambil.
Dari pemeriksaan sementara, tim menemukan adanya memar di bagian leher Lion.
Namun belum diketahui apakah luka itu akibat benturan, racun, jaring nelayan atau faktor lain.
“Ada semacam memar di leher. Jadi kita masih ambil sampel apakah itu kena hantaman atau bagaimana,” ujar Danielle.
Tim juga memeriksa kondisi paru-paru Lion untuk memastikan kemungkinan kematian akibat terjerat jaring.
Namun hasil sementara menunjukkan paru-paru pesut itu masih mengandung udara.
“Kalau kena jaring biasanya sudah habis udara karena kehabisan napas. Tapi ini masih ada udara di paru-parunya,” katanya.
Ia menduga, bangkai Lion kemungkinan terbawa arus dari wilayah hulu sebelum terdampar di kawasan Kampung Baru, Liang.
Indikator Kondisi Sungai Mahakam
Bagi peneliti, kematian seekor pesut bukan hanya soal hilangnya satu individu langka.
Tubuh pesut juga menjadi indikator kesehatan Sungai Mahakam yang selama bertahun-tahun menghadapi tekanan pencemaran, lalu lintas kapal, aktivitas tambang, hingga polusi dan mikroplastik.
Danielle menyebut pesut merupakan bioakumulator, yaitu satwa yang menyimpan zat pencemar di dalam tubuhnya sepanjang hidup.
“Kalau ada logam berat, itu enggak pernah benar-benar keluar dari tubuh mereka. Jadi nanti dari hasil laboratorium kita bisa lihat sebenarnya sesehat apa Sungai Mahakam saat ini,” katanya.
Pesut Mahakam Diambang Punah
Kematian Lion juga kembali mengurangi populasi pesut Mahakam yang tersisa di Sungai Mahakam.
Dari tahun ke tahun populasinya terus berkurang, mendekati ambang kepunahan.
Berdasarkan catatan RASI, diperkirakan kini hanya tersisa sekitar 65 ekor pesut.
“Awal tahun mungkin sekitar 66 ekor. Berkurang satu jadi sekitar 65 sekarang,” pungkas Danielle.
Kematian pesut seperti ‘Lion’ bukan semata kehilangan satu spesies mamalia air yang langka, namun juga pudarnya identitas yang melekat pada sungai Mahakam.
Jauh sebelum kapal-kapal tugboat lalu lalang menguasai sungai, Pesut telah ada berabad-abad menjaga keseimbangan ekosistem sungai Mahakam. (Deni)
Pilihan Editor: Danielle Pecinta Pesut Mahakam














